BBWS Pemali Juana Percepat Normalisasi Sungai Sringin, Supaya Genuk Semarang Bebas Banjir

Sehingga, mulai Juli 2018 tidak akan ada lagi banjir dan rob yang merendam Genuk selama berhari-hari.

BBWS Pemali Juana Percepat Normalisasi Sungai Sringin, Supaya Genuk Semarang Bebas Banjir
TRIBUNJATENG/DANIEL ARI PURNOMO
Jalan raya Kaligawe di Genuk masih tergenang, 7 Februari 2018 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kepala BBWS Pemali Juana, Ruhban Ruzziyatno mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan percepatan normalisasi Sungai Sringin dan pembuatan DAM untuk menanggulangi banjir rob yang kerap melanda wilayah Genuk, Kota Semarang.

Dari jadwal semula proses normalisasi akan selesai 2019 mendatang, dipastikan bisa selesai Juni 2018 ini.

Sehingga, mulai Juli 2018 tidak akan ada lagi banjir dan rob yang merendam Genuk selama berhari-hari.

"Maret besok pembuatan tanggul akan selesai sampai ketinggian 2,75 meter. Kami percepat agar pengendalian banjir dan rob yang sudah meredahkan masyarakat bisa tertangani," kata Ruhban, Kamis (8/2/2018).

Baca: Ini Alasan Penutupan Hilir Tiga Sungai di Genuk Kota Semarang

Nantinya, lanjut Ruhban, selain pembuatan tanggul juga akan dibuat dua bendungan dengan pompa besar.

Pompa tersebut berada di hilir sungai Sringin dengan kapasitas 10.000 liter per detik dan di hilir sungai Tenggang dengan kapasitas 12.000 liter per detik.

Ruhban menyebutkan, air yang menggenangi Genuk saat ini bukan air rob melainkan banjir air hujan. Untuk penanganannya, pihaknya telah mengerahkan puluhan pompa di enam titik.

"Ada di sungai Tenggang (7 pompa), Terminal Terboyo (5 pompa), Sringin Lama (6 pompa), Sringin Baru (4 pompa), sungai Babon (3 pompa), dan makan Genuk (1 pompa)," paparnya.

Terkait penutupan hilir tiga sungai yaitu Sringin Lama, Sringin Baru dan Tenggang, menurut Ruhban justru hal itu langkah tepat.

Karena jika ketiga sungai tersebut tidak ditutup maka air laut akan merendam wilayah timur Kota Semarang.

"Sekarang itu kami buka sementara dengan catatan kalau elevasi air laut rendah. Kalau elevasinya tinggi maka kami tutup lagi agar tidak masuk. Kalau dibuka permanen, itu justru keliru," jelasnya.(*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help