Jangan Biarkan Anak Anda Anti Sosial dan Tidak Empati. Begini Caranya

Seorang anak yang menderita gangguan psikopat dan berkepribadian ganda, cenderung anti terhadap lingkungan sosialnya.

Jangan Biarkan Anak Anda Anti Sosial dan Tidak Empati. Begini Caranya
TRIBUN JATENG/WILUJENG PUSPITA DEWI
Putri Marlenny P, S. PSi, M PSi saar ditemui Tribunjateng.com pada (1/2/2018) di Rumah Duta Revolusi Mental kota Semarang. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Wilujeng Puspita Dewi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Banyak yang mengira kepribadian anti sosial, psikopat, berkepribadian ganda dan semacamnya adalah gangguan psikologis pada orang dewasa.

Padahal, ketiga gangguan tersebut juga bisa terjadi pada anak kecil.

Seorang anak yang menderita gangguan psikopat dan berkepribadian ganda, cenderung anti terhadap lingkungan sosialnya.

Psikolog Kota Semarang, Putri Marlenny P, S PSi, M PSi menuturkan bahwa gangguan psikologis berupa kepribadian anti sosial bisa dikenali sejak dini.

"Pribadi anak dengan ego tinggi, agresif, dan tidak ada rasa kepedulian mengarah pada gangguan kepribadian anti sosial," ungkap Koordinator Rumah Duta Revolusi Mental tersebut kepada Tribunjateng.com, Kamis (8/2/2018).

Baca: Rutin Ikut Yoga, Lita Tak Lagi Rasakan Keluhan Sering Pusing dan Keram

Putri menuturkan, gejala gangguan kepribadian anti sosial dapat diamati sejak usia dini, alias ketika anak sudah mulai berinteraksi dgn lingkungan sekitar.

Pada usia dini, anak sudah bisa diajari cara berbelas kasih, bersimpati serta berempati.

Pada saat itu, orangtua sudah bisa mengenali indikasi kepribadian anti sosial pada anak.

"Ketika anak sudah berulangkali kita ajarkan belas kasih, simpati dan empati namun dia tidak dapat menerapkannya sama sekali, ada kemungkinan mereka memiliki gangguan kepribadian, yakni anti sosial," ungkapnya.

Baca: Penting! Jangan Lakukan Hal ini Setelah Lari

Selain itu, anak yang memiliki gangguan kepribadian tersebut, cenderung berperilaku agresif karena tidak memiliki rasa peduli ataupun empati.

Berbeda dengan nakal, agresif yang dimaksud adalah bergerak aktif untuk menyakiti orang lain. Tidak sampai disitu, terkadang muncul perasaan senang atau merasa menang bila melihat orang lain tersakiti olehnya.

"Ia akan tersenyum ataupun senang saat berhasil menyakiti tanpa ada rasa belas kasih dan bersalah," ungkap Putri.(*)

Penulis: Wilujeng Puspita Dewi
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help