Ngopi Pagi

Paradoks Zulfikar

Pekan ini sejumlah kasus peredaran narkoba berhasil diungkap di Jateng.Dua diantaranya cukup menarik perhatian, bahkan mengaduk-aduk emosi.

Paradoks Zulfikar
Humas Polres Blora
Barang Bukti Narkoba 

TRIBUNJATENG.COM - Pekan ini sejumlah kasus peredaran narkoba berhasil diungkap di Jateng.Dua diantaranya cukup menarik perhatian, bahkan mengaduk-aduk emosi.

Bagaimana tidak? Seorang pemuda berusia 19 tahun dari Boja, Kendal, yang biasa disebut Boncil, ditangkap Unit Reskrim Polsek Pedurungan saat akan mengambil paket sabu 8,6 gram. Lalu terungkap, alasan ia mengedarkan barang haram tersebut.

Dia bercerita baru lulus dari sebuah sekolah menengah namun ijazah belum bisa diambil karena tunggakan SPP menumpuk selama lima bulan. Dari mengedarkan sabu itulah rencananya uang yang didapat akan digunakan untuk menebus ijazah.

Sehari sebelumnya, BNNP Jateng memaparkan penangkapan pengedar sabu di Kopeng. Barang buktinya pun tak tanggung-tanggung, sebanyak 1,1 kg. Namun itu belum seberapa karena tersangka sebenarnya mendapat paket total 4 kilogram!

Hanya saja sebanyak 2,9 kilogram sudah diedarkan. Jumlah sebesar itu dikatakan Kapolres Salatiga AKBP Yimmy Kurniawan sebagai temuan terbesar sepanjang sejarah di Kopeng dan sekitarnya.

Selain banyaknya barang, ada dua catatan menarik dari hasil tangkapan BNNP kali ini. Yang pertama, cara tersangka mengedarkan sabu yang disebut sebagai modus baru yakni dikemas seperti permen.

Dan yang kedua, tersangka mengaku dikendalikan seseorang bernama Jiun yang diketahui merupakan narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Grasia di Yogyakarta. Lagi-lagi dari LP?

Sedikit flashback, pada 2017 silam, Kepala BNNP Jateng, Brigjen (Pol) Tri Agus Heru Prasetyo, mengatakan, 83 persen kasus peredaran narkoba di Jateng sepanjang tahun tersebut dikendalikan oleh Napi.

Dan tampaknya hal itu tidak banyak berubah di awal 2018 ini. Selain temuan 4 kg sabu di Kopeng, sepanjang Januari lalu, sebagian besar temuan kasus peredaran

narkoba juga dikendalikan dari LP. Yang jadi pertanyaan, jika data sudah segamblang itu, kenapa masih sangat susah memberantas peredaran narkoba yang dikendalikan dari LP? kenapa kokohnya tembok penjara dan kuatnya jeruji besi tak jadi halangan bagi mereka?

Ini seolah menjadi anomali karena LP yang mestinya merupakan tempat para narapidana ditempa agar insyaf, tapi di sana mereka justru masih leluasa melanjutkan kejahatannya. Persoalan ini tentu hanya bisa selesai jika semua sektor gigih memerangi narkoba. Mulai kepolisian, BNNP, jaksa, hakim hingga petugas LP.

Rabu (7/2) lalu, penyanyi dangdut Zulfikar Novan yang merupakan kontestan D'Academy ditangkap oleh Satnarkoba Polres Bangkalan dari sebuah rumah kos. Fikar ditangkap atas kepemilikan narkoba jenis sabu seberat 3,68 gram.

Penyanyi 'terciduk' karena memakai narkoba itu sudah biasa, namun Fikar jadi unik karena jawaban yang ia berikan saat ditanya kenapa mengonsumsi sabu. Dengan penuh percaya diri ia mengatakan untuk melakukan hal-hal positif seperti berzikir dan menghibur banyak orang saat tampil di panggung. Polisi pun terbengong-bengong karena jawaban itu.

Jangan-jangan, bukan hanya Fikar. Banyak lagi generasi muda harapan bangsa yang juga memiliki pemikiran serupa. Tak apa mengonsumsi narkoba karena tujuannya untuk hal yang positif. Seperti Boncil yang menjadi pengedar sabu untuk tujuan positif yakni agar bisa mengambil ijazah SMA. (Muslimah)

Penulis: muslimah
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help