ngopi pagi

Demam Kartu

Dalam jagad sepak bola, kartu kuning dikeluarkan oleh seorang wasit untuk menunjukkan bahwa seorang pemain secara resmi

Demam Kartu
INSTAGRAM/MATANAJWA
Mata Najwa Kartu Kuning Jokowi 

TRIBUNJATENG.COM - Dalam jagad sepak bola, kartu kuning dikeluarkan oleh seorang wasit untuk menunjukkan bahwa seorang pemain secara resmi telah diperingatkan. Pemain kena kartu kuning, antara lain karena tindakan tidak sportif, berkali-kali melanggar aturan permainan, dan lainnya.

Jika seorang pemain kena kartu kuning untuk kedua kalinya, maka dia akan dikenakan kartu merah. Itu berarti si pemain bakal dikeluarkan dari pertandingan. Kedua kartu ini dipelukan, jelas agar semua pemain tidak bisa main seenaknya. Kelihatannya mudah, memang, tapi masih saja mengundang protes. Karena itu wasit dituntut baik, adil dan tegas.

Lebih rumit lagi dalam politik. Semisal aksi Ketua BEM UI Zaadit Taqwa yang mengacungkan kartu kuning ke Presiden Jokowi, Jumat (2/2.2018), saat Jokowi menghadiri Dies Natalis UI di Kampus UI, Depok. Kartu kuning itu diberikan sebagai peringatan kepada Presiden Jokowi atas berbagai permasalahan yang terjadi di dalam negeri, termasuk soal masalah gizi buruk di kabupaten Asmat, Papua.

Menanggapi kartu itu, Jokowi menilai, sebaiknya BEM UI melihat langsung kondisi di Asmat. "Biar lihat dapat bagaimana medan yang ada di sana kemudian problem-problem besar yang kita hadapi di daerah-daerah. Mungkin nanti ya, mungkin nanti saya akan kirim semua ketua dan anggota di BEM untuk ke Asmat, dari UI ya," kata Presiden setelah menghadiri Haul Majemuk Masyayikh di Pondok Pesantren Salafiyah Safi`iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (3/2).

Perkembangan kemudian, tak sesederhana itu rupanya. Sejumlah politisi mendadak ‘demam kartu’ . Bahkan, ada politikus yang menilai pemerintahan Jokowi layak diberi kartu merah. Dalam arti cukup satu periode saja. Maklum saja jika kemudian muncul ocehan sindiran atas demam kartu di jagad politik itu.

“Eh, sekarang banyak politikus yang menyambi jadi wasit, ya? Jadi wasit memang gampang, tinggal merogoh dan mengacungkan kartu. Sayangnya, tidak mudah menjadi wasit yang baik, adil, dan tegas.” Begitu salah satu status di Facebook, menanggapi politisi yang 'beraksi' sehari seuai aksi Zaadit.

Gayung pun bersambut. Sejumlah pakar tertarik untuk mengupasnya. Masduri, Dosen Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, misalnya. Menurut dia, meski Zaadit sudah menjelaskan maksud tindakannya itu, tapi maknanya masih saja jadi liar.. Zaadit, ujarnya, boleh saja melempar makna dari tindakan pengacungan kartu kuning. Namun, publik sebagai penonton dan pembaca berita, menghadirkan analis-analis, yang mungkin berbeda dengan makna yang dihadirkan Zaadit. Dalam realitas politik, segalanya memang serbaabu-abu.

Ya, politik memag abu-abu. Tapi, ini yang layak jangan dibikin aku-abu.. Pertengahan April 2017, dari data Kemensos, ada tiga juta lebih keluarga miskin peserta Program Keluarga Harapan (PKH) yang sudah menerima kartu bantuan non-tunai multifungsi. Kartu seperti itulah yang nyata masih dibutuhkan sebagian rakyat negeri ini. Mereka yang benar-benar membutuhkan, bakal demam karena kelaparan jika tak kebagian kartu itu. Meski itu bukan solusi paling tetap. (*)

Penulis: sujarwo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help