Liputan Khusus

BPOM Akui Sulit Kendalikan Penjualan Obat Online

BPOM berharap peran serta dari masyarakat agar lebih kritis sebelum berbelanja online guna mencegah hal-hal yang negatif.

BPOM Akui Sulit Kendalikan Penjualan Obat Online
tribunjateng/khoirul muzaki
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mengawasi peredaran obat ilegal, kosmetik berbahaya, dan makanan tidak layak edar yang dijual secara online.

Hal itu disampaikan Kabid Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BPOM Jateng, Aryanti, Kamis (8/2). Hanya saja, menurut dia, karena jumlah pertumbuhan situs online begitu menjamur dan terlalu banyak modus yang digunakan membuat keberadaannya sulit untuk dikendalikan.

Dengan kondisi itu, BPOM berharap peran serta dari masyarakat agar lebih kritis sebelum berbelanja online guna mencegah hal-hal yang negatif.

"Beberapa web yang menjual obat-obat keras secara online yang berhak memblokir Kominfo. Sehingga edukasi ke masyarakat lebih kami galakkan, agar tidak sembarangan beli obat via online, karena produk ilegal itu tidak dijamin mutu, manfaat, dan keamanannya," kata dia.

Aryanti menuturkan, bentuk edukasi berupa menggalakkan program 'Cek Klik' yang mengingatkan konsumen agar selalu mengecek kemasan, label, izin edar, dan kadaluarsa sebelum memutuskan untuk membeli atau memakai produk kesehatan.

Dia menambahkan, edukasi tersebut juga dilakukan di media sosial seperti melalui Twitter dan Instagram.
Kambing hitam

Selama ini, menurut dia, BPOM acap kali menjadi kambing hitam jika ada temuan peredaran obat ilegal. Ia pun menyatakan, pengawasan harus melibatkan tiga pilar, tidak bisa dilakukan sendiri.

Tiga pilar itu meliputi pemerintah, pelaku usaha (produsen distributor), dan konsumen (masyarakat). Begitu ada yang tidak beres harus saling mendukung dan tidak menutupi.

Selain itu, Ariyanti menyatakan, pengawasan juga perlu ditingkatkan, mulai bahan baku masuk lewat jalur mana dan dibuat siapa harus ada kerja sama dangan yang berwenang.

Penguatan regulasi juga sangat perlu dilakukan. Undang-undang pengawasan obat dan makanan masih dalam pembahasan, kemudian penegakan hukum harus tegas dan memberi efek jera.

Dia berujar, masalah yang terjadi selama ini khusus terkait dengan peredaran obat keras via online, karena adanya permintaan dan tidak ada subsistem untuk menghentikan secara efektif. Remaja selalu ingin coba-coba, sementara tidak ada informasi/perhatian yang memadai.

"Dari aduan cukup banyak. Sayang ada aduan yang nggak lengkap, sehingga sulit ditelusuri. Seperti misalnya setelah dicari alamatnya nggak ketemu, pelapor juga nggak bisa dikontak lagi," paparnya. (tim)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help