TribunJateng/

WADUH, Pengembang Stop Bangun Rumah Subsidi di Kota Semarang, Begini Solusinya

WADUH, Pengembang Stop Bangun Rumah Subsidi di Kota Semarang, Begini Solusinya

WADUH, Pengembang Stop Bangun Rumah Subsidi di Kota Semarang, Begini Solusinya
tribunjateng/raka f pujangga/dok
Konsumen sedang melihat-lihat rumah subsidi yang sudah selesai dibangun di Desa Doplang, Bawen, Kabupaten Semarang, baru-baru ini. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Raka F Pujangga

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kota Semarang tak bisa lagi mendapatkan rumah subsidi menggunakan mekanisme Fasilitas Likuiditas Pembiayaan ‎Perumahan (FLPP).

Hal itu menyusul tak ada lagi pengembang yang bisa membangun rumah‎ subsidi tersebut di Ibukota Provinsi Jateng tersebut, mulai tahun 2018 ini.

Wakil Ketua Bidang Promosi, Humas dan Publikasi REI Jateng, Dibya K Hidayat menjelaskan, harga tanah di pinggiran Kota Semarang saat ini sudah mencapai Rp 300 ribu per meter persegi.

Sehingga tak ada lagi pengembang yang bisa membangun rumah yang kini ditetapkan pemerintah seharga Rp 130 juta per unit.

"Untuk membangun rumah subsidi, ‎maksimal tanahnya Rp 200 ribu per meter persegi. Dengan harga sekarang sudah tidak bisa bangun lagi untuk tahun ini," kata dia, Kamis (15/2/2018).

Dia menjelaskan, harga tanah merupakan faktor ‎penentu yang mempengaruhi kenaikan harga rumah secara permanen.

Berbeda halnya dengan material bangunan yang naik, harga rumah tidak terlalu berpengaruh besar.

"Kalau harga semen naik, karena dolar Amerika naik itu masih bisa diatasi. Kalau harga tanah yang tinggi itu akan berimbas pada harga rumah," kata dia.

Menurutnya, bagi masyarakat yang ingin mendapatkan rumah subsidi bisa‎ bergeser ke Kabupaten Demak.

Kabupaten itu, dinilai masih memiliki harga tanah yang cukup terjangkau untuk pengembangan rumah subsidi.

"Kalau Kabupaten Semarang itu sudah mahal karena ada tol. Yang paling memungkinkan itu hanya di Demak," ucap dia. (*)

Penulis: raka f pujangga
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help