Apa Tujuan Kelompok Orang 'Kurung Diri' dalam Rumah Berbulan-bulan, Ini Kata Ketua eL-SA Semarang

Kenyamanan yang ditawarkan biasanya berasal dari perhatian lebih dari pimpinan kelompok, yang dianggap berwibawa

Apa Tujuan Kelompok Orang 'Kurung Diri' dalam Rumah Berbulan-bulan, Ini Kata Ketua eL-SA Semarang
akhtur gumilang
Kondisi dalam dan luar rumah. Tampak pagar besar menjulang tinggi, Kamis (15/2/2018), di rumah Andi. 

TRIBUNJATENG.COM - Dari sudut pandang relasi sosial-psikologis, salah satu daya tarik dari kelompok-kelompok kecil di tengah masyarakat, -yang seringkali diduga menyimpang, bisa jadi karena para anggota kelompok mendapatkan perhatian dan kenyamanan, yang selama ini tak didapatkan dari lingkungan lama.

Kenyamanan yang ditawarkan biasanya berasal dari perhatian lebih dari pimpinan kelompok, yang dianggap berwibawa dan kharismatik.

Terlebih, banyak masyarakat sekarang, merasa teralienasi karena beragam himpitan persoalan kehidupan.

Mereka membutuhkan perhatian yang lebih, agar merasa aman, nyaman dan bisa merasa terbebas dari berbagai himpitan persoalan.

Penanganan terhadap kelompok masyarakat yang diduga menyimpang ini, lebih dominan menggunakan perspektif keamanan dan ketertiban. Jarang sekali, menggunakan sudut pandang hak personal dan kelompok.

Karena itu, penanganan terhadap kelompok seperti ini, jangan hanya melulu menggunakan perspektif kemanan dan ketertiban. Yang lebih penting, lakukan pendekatan persuasif dan jangan mengabaikan hak-hak personal mereka.

Penanganan persuasif, dengan mengembalikan mereka kepada keluarga masing-masing, saya pikir merupakan langkah yang cukup tepat. Sebab, penanaman nilai-nilai yang mendasar, berasal dari lingkungan keluarga terlebih dulu.

Di samping itu, masyarakat juga jangan terlalu mudah menghakimi mereka. Agar, mereka bisa lekas kembali kepada kehidupan bermasyarakat secara normal dan wajar.

Dalam kasus di Palebon, Semarang ini, yang secara sosiologis keliru adalah sikap mereka yang menutup rapat dan tak mau berinteraksi dengan keluarga, masyarakat, dan dunia luar.

Dalam agama apapun, tak diajarkan untuk menutup diri dan hidup terasing dari dunia di sekitarnya.

Tedi Kholiludin, Ketua Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eL-SA) Semarang. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved