Opini

OPINI: Perang Bintang Sembilan dalam Pilgub

Tahun 2018 adalah tahun politik, yang ditandai dengan gegap gempitanya pilkada serentak. Dua Provinsi di Jawa

OPINI: Perang Bintang Sembilan dalam Pilgub
tribunjateng/m nur huda
Maskot Pilgub Jateng 2018 berupa SEMAR 

Oleh: Maswan

Dosen UNISNU Jepara, Pengurus LPTNU Kabupaten Jepara Periode 2012-2016

 TRIBUNJATENG.COM - Tahun 2018 adalah tahun politik, yang ditandai dengan gegap gempitanya pilkada serentak. Dua Provinsi di Jawa, yaitu Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng), akan terjadi pilihan gubernur (Pilgub) yang sangat menarik, namun juga membingungkan kalangan publik, lebih-lebih di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU). Pasalnya, semua kandidat Pilgub ini ada calon dari kader-kader hebat di kalangan Nahdliyin.

Pilgub Jatim misalnya, dua Paslon yang tampil adalahKhofifah Indar Parawansa (KIP) dan Saifulah Yusuf yang kondang disebut Gus Ipul (GI) masing-masig sebagai calon Gubernur. Sementara di Jateng, juga ada dua nama yanag menjadi calon Wakil Gubernur yaitu Gus Yasin putra kiai kharismatik NU di Jateng, KH Maimoen Zubair dan Ida Fauziah sebagai Ketua Fraksi PKB DPR RI, yang nota bene sebagai Pimpinan Pusat Fatayat NU.

Mencermati dua Provinsi yang memasang Cagub dan Cawagub, semuanya ada kader NU yang menjadi bintang dalam kancah politik ini, maka tidak bisa dihindari dan tidak bisa dielakkan pasti akan terjadi perang bintang. Meminjam istilah Anwar Hudijono (Wartawan Kompas), akan terjadi Perang Bintang Sembilan, sebagai simbol NU.

Anwar Hudijono, menjelaskan Pilgub Jatim 2018 ini boleh dibilang ‘Perang Bintang Sembilan’. Karena dua cagub yang head to head adalah sama-sama kader NU tulen ibarat emas 24 karat bukan suwasa. KIP saat ini Ketua Umum Muslimat NU, sedang GI Ketua Tanfidziyah PBNU. Keduanya menjadi cagub sama-sama mengantongi beselit dari kiai NU. Hanya bedanya, GI dibeseliti ‘kiai struktural’ seperti KH Anwar Iskandar, KH Mutawakkil Alallah, sedang KIP dibeseliti ‘kiai kultural’ seperti KH Solahuddin Wahid, KH Asep Saifuddin Chalim dengan backup handal Cak Anam (Choirul Anam red.), (Duta.co, 18/1).

Di Jateng juga bisa dibilang akan terjadi perang bintang sembilan, karena Wakil Ganjar, adalah Gus Yasin. Beliau adalah putra kiai kharismatik NU di Jateng, KH Maimoen Zubair. Sementara Ida Fauziah, wakil Sudirman Said, adalah PKB yang notabene partai kalangan Nahdliyin, yang juga sebagai kader dari Fatayat NU. (Tribunjateng, 31/1).

Ya, istilah perang dalam perpolitikan ini memang tidak dimaknai sebagai adukekuatan fisik yang akan memusnahkan dalam bentuk kematian. Dalam kontek politik akan terjadi benturan psikologis atau perang urat syaraf (psiwar). Dan perang urat syaraf hakekatnya tidak hanya dilakukan oleh calon, tetapi akan melibatkan seluruh komponen pendukungnya, yang mayoritas warga NU.

Perang bintang sembilan di dua provisni akan memunculkan dua kubu yang terbelah dari satu tubuh NU. Agar eksisteni NU dalam pempersiapkan kader dan seluruh anggotanya menjadi solid dan dewasa dalam perpolitikan ini, maka semua elemen pimpinan NU haraus memberi pemahaman dan pencerahan dalam berpolitik praktis ini.

Penulis sepakat dengan Anwar Hudijono, Agar happy ending mudah dicapai dalam Pilgug ini, haruslah ada penataan prakondisi yang saksama. Atau proses pilgub berlangsung dengan mengindahkan aturan hukum, berlandaskan akhlakul karimah, dibingkai dalam harkat dan semangat fastabihul khairat (berlomba dalam kebaikan). Bagaimanapun di kalangan ahlus sunnah wal jamaah sudah memiliki landas-acuan bahwa addinu as-siyasah (agama itu politik). Bahwa as-siyasatu furuin min furuis-syarí (politik itu cabang dari cabangnya syarak). Betapapun politik itu tidak bisa lepas sama sekali dari syarak atau hukum agama. (Duta.co, 18/1).

Politik yang Bekebudayaan

Untuk mengusung Pilkada Gumbernur ini, semua kader dan warga NU diharapkan dapat menjalankan politik yang berkebudayaan. Artinya, apa yang menjadi kepentingan politik dari para calon pemimpin pemerintahan dari NU, saat Pilkada ini dilakukan dengan proses dan hasil yang beretika moral politik yang berkebudayaan dan dikendalikan dengan ajaran ala ahlussunnah waljamaah.

Menurut Pengamat Politik dan Sosial Kebudayaan, Budhi Wiryawan, bahwa Kebudayaanpilkadadibangun dari etika, perilaku dan cara berfikir yang berdimensi humanisme. Kekuasaan bukan simbol yang berdiri sendiri, jika nilai-nilai kebaikan itu terus tetap hadir.. Secara umum kultur politik di negeri ini cenderung masih primordial. (Tribunjateng, 1/11/2016).

Dengan landasan politik yang berkebudayaan tersebut, diharapkan akan terjadi mobilisasi pengusungan suara dalam Pilkada Pilgub ini secara kondosif dan dipacu dengan kedewasaan berpikir baik dari kader dan para konstituennya. Karena pada hakekatnya, siapa pun yang memang adalah kemenangan NU dan siapa pun yang kalah adalah kekalahan NU. Dan muara akhir dalam Pilgub, dua Provinsi (Jatim dan Jateng) setelah ditetapkan kemenangan Gubernur dan Wakil Gubernur, hakekanya adalah kemenangan NU dalam kepemimpinan bangsa ini, dan integritas NU tetap eksis dan terjaga. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved