Nilai Tukar Rupiah

ADA Apa Ini? Nilai Tukar Rupiah Sentuh Rp 13.775 per Dollar AS

Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan hingga menembus Rp 13.800 per dollar AS. Kamis (1/3) nilai tukar rupiah Rp 13.762

ADA Apa Ini? Nilai Tukar Rupiah Sentuh Rp 13.775 per Dollar AS
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Ilustrasi - Menghitung uang rupiah 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan hingga menembus Rp 13.800 per dollar AS. Kamis (1/3) kemarin, nilai tukar rupiah dibuka pada level Rp 13.762 per dollar AS dan ditutup di level Rp 13.748 per dollar AS. Sepanjang perdagangan kemarin, kurs rupiah bergerak pada kisaran level Rp 13.745 hingga Rp 13.817 per dollar AS.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Doddy Zulverdi mengungkapkan, pihaknya sebagai bank sentral telah siap menghadapi kondisi tekanan terhadap mata uang rupiah. "Sudah sejak lama BI mempersiapkan diri, menghadapi situasi ini, sejak September 2017 kami tidak lagi menurunkan suku bunga, kebijakan moneter tidak diubah," ujar Doddy di Kantor Pusat Bank Indonesia, Kamis (1/3).

Doddy menegaskan, adanya tekanan kepada rupiah sudah diantisipasi dengan baik oleh bank sentral, salah satunya adalah intervensi yang dilaksanakan BI untuk stabilisasi nilai tukar. "BI ada di pasar, tentu tidak di setiap titik, tidak setiap saat kami masuk. Hanya di saat pelemahan cepat sekali, jangan sampai kecepatan pelemahan berlebihan," sambungnya.

Adapun, dalam pelemahan rupiah kali ini, Doddy mengungkapkan, sejak pagi kemarin pihaknya telah melakukan intervensi kepada pasar. Sebab, lanjut dia, bank sentral sudah memprediksi akan terjadi tekanan yang kuat.

Ia mengklaim telah melakukan stabilisasi sejak perdagangan dibuka lantaran ada pergerakan yang cepat dan mengkhawatirkan. Hasilnya, memasuki siang dan sore kemarin, tekanan terhadap rupiah tidak sebesar dibanding saat pembukaan perdagangan.

"Kami terus konsisten jaga, kami lihat siang ini sudah mulai reda. Angkanya sudah agak sedikit walaupun di atas Rp 13.750, dan angka terakhir Rp 13.755," kata Doddy.

Namun demikian, Doddy enggan menjelaskan, berapa besaran volume intervensi yang dilakukan oleh BI guna meredam tekanan oleh dollar AS terhadap rupiah. Sebab, hal itu merupakan bagian strategi rahasia bank sentral mengamankan nilai tukar rupiah.

"Intervensi pada intinya volume dan timing, dan itu bagian dari strategi dan taktik yang sangat rahasia. Di BI satupun tidak ada yang tahu karena itu masuk dalam strategi," sebut dia.

Sementara VP Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede menambahkan, kondisi sistem perbankan relatif kuat untuk mengantisipasi dampak pelemahan nilai tukar rupiah di atas level fundamentalnya. Kondisi itu tercermin dari rasio kecukupan modal yang sangat baik, yakni sekitar 23,18 persen serta rasio core capital terhadap Risk Weighted Asset juga tercatat 21,50 persen.

Adapun risiko kredit pun trennya menurun ke level 2,59 persen. Selain itu indikator likuiditas juga sangat baik dimana rasio likuiditas (AL/DPK) sebesar 21,5 persen. "Meskipun demikian, pelemahan nilai tukar rupiah dapat berpengaruh pada mikro masing-masing bank yang memiliki utang dalam bentuk valas dan bank yang memiliki portofolio kredit dalam denominasi valas," jelas Josua.

Pelemahan rupiah pun dapat berpengaruh bagi debitur bank dalam hal pembayaran cicilan utang yang pada akhirnya berpengaruh pada NPL bank tersebut. Secara terpisah, OJK menilai pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi pada rupiah. "Pelemahan tidak hanya kita (rupiah), tapi global hampir semua melemah, kecuali yen saja yang menguat," kata Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi OJK Y Santoso Wibowo dalam media briefing di Jakarta, kemarin.

Pelemahan nilai tukar, ungkap Santoso, terjadi lantaran investor mengantisipasi kenaikan suku bunga di AS. Sebagian besar investor, sudah melakukan price in, sehingga telah mulai memindahkan dananya ke AS.

"Mereka takut telat, sebab jika di AS supply dollar AS tinggi akan turun, jadi mereka memanfaatkan kenaikan bunga yang ada di AS," jelas Santoso.

Dia berharap fenomena pelemahan nilai tukar rupiah hanya temporer alias sementara. Hal itu sejalan dengan cadangan devisa Indonesia yang masih tinggi. "Pelemahan tidak hanya terjadi di rupiah. Mata uang lain juga melemah, kecuali Yen (mata uang Jepang - Red) yang menguat," ucap Santoso. (Tribunjateng/cetak/Kompas.com)

Editor: iswidodo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help