Ancaman Perang Dagang AS Diduga Bikin IHSG Terus Melemah

Sentimen negatif dari global bikin IHSG melemah. Satu di antaranya adalah ancaman perang dagang dari Amerika Serikat

Ancaman Perang Dagang AS Diduga Bikin IHSG Terus Melemah
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Petugas jasa penukaran uang asing saat menghitung pecahan 100 dolar AS di PT Ayu Masagung, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS melemah dan menyentuh Rp 13.761 per Dolar AS. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Mengawali pekan ini, Senin (5/3) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mendarat di zona merah dengan penurunan 0,48 persen ke level 6.550,59. Total net sell investor asing mencapai Rp 1,41 triliun.

Analis Bahana Sekuritas, Muhammad Wafi mengatakan, sentimen negatif dari global bikin IHSG melemah. Satu di antaranya adalah ancaman perang dagang dari Amerika Serikat (AS) terkait rencana bea impor aluminium dan baja.

"Di sisi lain, belum ada sentimen penggerak dari dalam negeri," ujarnya.

Masih minimnya sentimen ini dapat membuat IHSG melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (6/3).

Wafi memprediksi, hari ini IHSG masih berpotensi melemah di rentang 6.500 hingga 6.600.

Analis Kresna Sekuritas, Etta Rusdiana Putra juga menilai isu eksternal masih akan menyetir IHSG. Rencana kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi perhatian pasar. Yield obligasi Indonesia juga diperkirakan masih ada di rentang 6,1 ppersen hingga 6,6 persen.

"Hal itu menjadi sentimen negatif bagi IHSG karena berpotensi menahan penguatan perbankan," kata Etta. Etta memproyeksi IHSG cenderung bearish dengan kisaran support 6.530 dan resistance 6.580.

Di sisi lain, tekanan eksternal membuat rupiah terseok. Kemarin, rupiah spot melemah 0,04 persen ke level Rp 13.762 per dollar AS. Ini juga menjadi rekor terburuk sejak Februari 2016.

Menurut Analis PT Global Kapotal Investama Berjangka, Nizar Hilmy, mata uang Garuda masih dalam tren pelemahan. Penyebabnya datang dari potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve di bulan ini yang semakin menguat.

Namun, Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menyatakan, koreksi rupiah terbatas, karena mendapat sentimen positif dari keputusan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan bea impor terhadap baja dan aluminium.

"China yang optimistis menetapkan pertumbuhan 6,5 persen juga memberi sentimen positif bagi mata uang negara berkembang," kata dia.

Hal tersebut akhirnya membuat kurs tengah Bank Indonesia menguat 0,04 persen menjadi Rp 13.740 per dollar AS.

David memprediksi hari ini rupiah masih konsolidasi dalam rentang Rp 13.700-Rp 13.800 per dollar AS. Sedangkan, Nizar menebak, rupiah berada dalam kisaran Rp 13.730-Rp 13.780 per dollar AS. (Tribunjateng/cetak/Kontan)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved