Keluarga Baasyir: Ini kan Urusan Kemanusiaan, Kenapa Ada Intervensi Asing juga?

"Kami keluarga menolak kalau pemindahan itu ke lapas lagi. Kami minta sejak awal pemindahan tahanan rumah karena

Keluarga Baasyir: Ini kan Urusan Kemanusiaan, Kenapa Ada Intervensi Asing juga?
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Terpidana terorisme Abu Bakar Baasyir 

TRIBUNJATENG.COM, SUKOHARJO - Keluarga Abu Bakar Baasyir menolak rencana pemindahan narapidana terorisme itu dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Gunung Sindur, Bogor, ke lapas terdekat rumahnya.

Sebab sejak awal, keluarga meminta pemindahan tahanan Baasyir menjadi tahanan rumah, bukan tahanan lapas.

"Kami keluarga menolak kalau pemindahan itu ke lapas lagi. Kami minta sejak awal pemindahan tahanan rumah karena yang kami minta itu murni agar bisa merawat beliau," ujar putra Baasyir, Abdul Rochim Baasyir, kepada Kompas.com, Selasa (6/3).

Menurutnya, keluarga sudah mempersiapkan ruangan atau kamar khusus setelah mendapatkan informasi bahwa Presiden Joko Widodo menyetujui pemindahan Baasyir menjadi tahanan rumah. Pasalnya, saat Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, datang ke kediaman Baasyir di Sukoharjo, beberapa waktu lalu, keluarga meminta agar Baasyir dijadikan tahanan rumah.

"Usulan yang kami sampaikan ke Menhan saat ke sini adalah tahanan rumah. Menhan menyampaikan ke presiden juga tahanan rumah. Lah kok tiba-tiba hari ini setelah ada tekanan Australia dan sebagainya kok menjadi tahanan lapas. Ini ada apa lagi?" jelas Rochim.

Dia mengaku heran dengan adanya intervensi asing terkait pemindahan tahanan Baasyir. Bagi keluarga, sudah cukup pihak asing mengintervensi saat Baasyir masih disidang di pengadilan. "Ini kan urusan kemanusiaan. Kok masih ada intervensi asing juga," ungkap Rochim.

Rochim menuturkan, lebih baik Baasyir tetap berada di Lapas Gunung Sindur daripada dipindahkan ke lapas lainnya. Bila dipindah dari Lapas Gunung Sindur ke lapas baru, maka ayah kandungnya itu akan membutuhkan penyesuaian lagi. "Tahu sendiri orangtua itu tidak gampang untuk penyesuaian. Belum tentu sesuai juga dengan kondisi. Kalau mau pindah ke LP biar saja di situ. Biar di Sindur. Berarti pemerintah menolak permintaan kami. Jangan diputer ke sana kemari," jelas Rochim.

Bagi Rochim, pemindahan dari lapas ke lapas tidak merealisasikan sesuai tuntutan dari keluarga. Pihaknya mempersilakan rumahnya dijaga aparat kepolisian bila Baasyir dipindahkan menjadi tahanan rumah. "Mangga, rumah kami dijaga polisi juga tidak apa-apa. Kami hanya fokus pada kondisi beliau yang sudah tua dan tidak mungkin mendapatkan perawatan sebagaimana yang di rumah," katanya.

Sebelumnya, Senin (5/2) lalu, Menko Polhukam, Wiranto mengatakan, pemerintah tak akan mengubah status Baasyir menjadi tahanan rumah. Namun, pemerintah akan memindahkan penahanan Baasyir dari Lapas Gunung Sindur di Bogor ke salah satu lapas di Jateng.

"Pemerintah akan memindahkan penahanan Abu Bakar Baasyir ke Jawa Tengah dengan pendekatan kemanusiaan. Karena usia terpidana tersebut sudah tua, dipertimbangkan penahanannya dipindahkan," katanya.

Sementara itu, Polda Jateng siap mengamankan proses pemindahan terpidana kasus terorisme, Abu Bakar Baasyir, dari Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor, ke lapas di Jawa Tengah. Baasyir akan dipindahkan ke Lapas Klaten atau Rutan Surakarta agar dekat dengan keluarganya.

"Kebijakan pemerintah, dari Kemenkumham tentunya kami akan sinergi," kata Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono, seusai menghadiri pelantikan 748 brigadir hasil Pendidikan dan Pembentukan Bintara Polri Tugas Umum di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jateng, Purwokerto, Selasa kemarin.

Condro mengatakan, rencana pemindahan Baasyir tersebut tidak menjadi masalah bagi Polda Jateng. "Jadi enggak ada masalah karena nanti ditempatkan di lapas juga," tegasnya. (tribunjateng/cetak/kps/dtc).

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved