OPINI

Kontra Narasi Kebencian

Kontra Narasi Kebencian. Opini ditulis oleh Mohammad Farid Fad/Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang

Kontra Narasi Kebencian
TRIBUNJATENG/CETAK/BRAM
Opini ditulis oleh Mohammad Farid Fad/Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Rabithah Maahid Islamiyah (PW RMI-NU) Jawa Tengah 

Opini ditulis oleh Mohammad Farid Fad/Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PW RMI-NU) Jawa Tengah

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Terbongkarnya lagi sindikat penyebar hoaks yang menamakan dirinya Muslim Cyber Army (MCA) tentu mengejutkan semua pihak. Pihak kepolisian berhasil membongkar perkongsian jahat yang memanfaatkan isu-isu berdaya ledak tinggi semisal penganiayaan ulama serta bangkitnya komunisme untuk menggoreng emosi massa. Lagi-lagi kita seperti dikadali dengan berita-berita palsu (fake news) yang membuat kumuh sekat-sekat ruang publik.

Demagogi kebencian diraungkan secara lantang yang bersumber dari hati yang didera defisit moral. Logika publik yang waras dipelintir kemudian dimonopoli oleh kebenaran semu. Otoritas rasio menjadi tidak guna, yang terpenting adalah sensasional. Bila perlu, playing victim-pun dilakukan asal meraih simpati publik.

Yang membikin miris, sekutu keji ini mencatut konten yang berpotensi menimbulkan kekisruhan sosial. Simpul-simpul sosial terancam mengalami fraktur akibat dibenturkan dengan rapalan-rapalan demokrasi, yaitu kebebasan bersekutu dan berekspresi. Padahal, sejatinya demokrasi tidak berarti bebas tanpa kekang, namun tetap dibatasi rambu dan marka dengan tanpa menelikung hak dan martabat kemanusiaan.

Meluasnya wabah hoaks dan tumbuh suburnya remah-remah kebencian tentu menambah gelanyut pertanyaan mendasar, mengapa publik seakan begitu gampang dipanggang emosinya dengan kabar tak jelas? Lalu bagaimanakah upaya mengatasinya?

Literasi Digital

Meluasnya informasi asimetris akan menyebabkan kesimpangsiuran masif. Bagaimana tidak, penyebar hoaks memanipulasi informasi dengan memanfaatkan efek kejut publik sebagai perangkat hipnotis. Tujuannya tak lain adalah agar publik terhenyak kaget. Dampaknya, alam bawah sadar secepatnya terkuasai sehingga kabar apapun akan dibenarkan secara refleks tanpa didahului proses nalar yang sehat.

Ruang publik sebagai aset interaksi sosial-pun bukan hanya terdefinisikan dalam alam nyata, melainkan lalu lalang dalam dunia maya. Bahkan arus info paling crowded justru terjadi dalam ruang publik gawai yang menobatkan media sosial sebagai panggung presentasi publik.

Bila lengah, pengguna dawai bisa terombang-ambing dalam buaian kepentingan penyebar hoaks. Imbasnya, bisa terjadi sebaran titik api (hot spot) yang berujung dentuman distorsi informasi yang siap menerkam emosi massa. Untuk itu, perlu pemahaman dan penyikapan yang cerdas atas perkembangan dunia digital yang bergerak sangat cepat.

Menyiapkan generasi tanggap literasi digital adalah solusi yang tak terhindarkan. Diharapkan lensa penerawangan publik dapat diarahkan untuk memotret fakta dengan angle yang tepat. Dengan demikian, optik publik tidak lagi terlamurkan oleh miopia isu-isu laten primordialisme dan komunisme.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved