Pilgub Jateng

Berbincang Empat Mata Selama Sejam dengan Ganjar Pranowo, Ini Pesan Penting Syafii Maarif

Ganjar mendapatkan titipan beberapa program, salah satunya pertanian organik.

Berbincang Empat Mata Selama Sejam dengan Ganjar Pranowo, Ini Pesan Penting Syafii Maarif
TRIBUN JATENG/DANIEL ARI PURNOMO
Calon Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersilaturahmi dengan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, Rabu (13/3/2018). 

TRIBUNJATENG.COM, YOGYA - Calon Gubernur Jateng Ganjar Pranowo bersilaturahmi dengan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, Selasa (13/3/2018).

Ganjar mendapatkan titipan beberapa program, salah satunya pertanian organik.

Ganjar diterima Buya di Gedung Grha Suara Muhammadiyah. Sebuah gedung baru di Jalan KH Ahmad Dahlan.

Keduanya berbincang empat mata selama satu jam kemudian membuka konferensi pers dengan wartawan di lantai 3 gedung tersebut.

Ganjar menyampaikan, bersama Buya membicarakan banyak hal. Namun paling seru ketika membahas program pertanian.

"Tadi lebih banyak diskusi soal pertanian tadi yang seru, bagaimana politik pertanian kita digeser ke organik sehingga lebih baik," katanya.

Selain pertanian, Buya meminta Ganjar merancang program yang realistis alias tidak mengada-ada.

Program-program tersebut harus mampu diwujudkan untuk melayani rakyat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Beliau beri masukan kasih program yang realistis. Beliau kasih contoh pertanian organik dan saya cerita program akses modal kredit murah yang sekarang sudah ada 15000 nasabah sehingga mendorong usaha kecil dan mikro lebih mandiri," katanya.

Disinggung soal peta politik Pilgub Jateng, Ganjar menyatakan sejauh ini masih berjalan sesuai harapan masyarakat. Meski sedang berada di tahun politik namun situasi sosial masih relatif adem.

"Jateng relatif adem relatif ayem, kami para pasangan menjaga ini terus menerus. Kita tunjukkan tidak ada bermusuhan seolah olah baku tinjau, ini suasana Jateng banget yang menghormati unggah ungguh," ujarnya.

Justru pertarungan panas tercipta di dunia maya dengan beredarnya hoax dan fitnah dari akun-akun anonim. Ganjar meminta penegak hukum menindak tegas.

"Yang sulit menjaga di sini (handphone), banyak yang anonim fitnah dan lain-lain. Maka kita harus kasih hukuman sosial, karena harusnya berita itu tabayun dan klarifikasi dulu," tegasnya.

Terkait ujaran kebencian, Buya menganalogikan seperti buih dan air. Berita hoax adalah buih yang umurnya tidak akan panjang.

"Hoaks itu menzalimi diri sendiri, dalam Alquran itu ada perbandingan buih dan air. Hoaks itu buih umurnya tidak lama, air itu lambang kebenaran, yang menyebar-nyebar fitnah nanti akan malu sendiri," tandas penulis buku 'Islam dan Masalah Kenegaraan' itu.(*)

Penulis: Daniel Ari Purnomo
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help