Pandai Besi di Desa Wonosari Batang Keluhkan Harga Plat Baja dan Kelangkaan Arang Jati

Semakin mendekat, dua orang terlihat bergelut dengan panasnya bara dan baja yang masih berpijar dan berwarna merah menyala.

Pandai Besi di Desa Wonosari Batang Keluhkan Harga Plat Baja dan Kelangkaan Arang Jati
Tribunjateng.com/Budi Susanto
Mustofiah dan Hodirin tengah menbentuk sabit dari bara yang masih berpijar, Senin (16/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Deru suara besi beradu dari sebuah gubuk kecil terdengar keras dari kejauhan.

Semakin mendekat, dua orang terlihat bergelut dengan panasnya bara dan baja yang masih berpijar dan berwarna merah menyala.

Dua orang tersebut adalah Mustofiah (40) dan Hodirin (43) pandai besi dari Dukuh wonosari Desa Wonosari Kecamatan Bawang Kabupaten Batang.

Usai plat baja dipanaskan menggunkan bara dari arang kayu jati, kemudian dibentuk menyerupai sabit dengan cara dipukul menggunkan dua buah palu berukuran sedang.

Walaupun terbilang pekerjaan berat namun keduanya sudah melakoni pekerjaan menjadi pandai besi hampir 10 tahun.

Dan pekerjaan tersebut menjadi satu-satunya mata pencaharian untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Diterangkan Mustofiah, ia sanggup menjual sekitar 100 sabit setiap bulannya ke beberapa pasar tradisional yang ada di Kabupaten Batang.

"Sebenarnya lumayan permintaan alat pertanian seperti sabit dan cangkul tidak pernah menurun, namun kendala kami di bahan pembuatan yaitu plat baja," ujarnya, Senin (16/4/2018).

Ditambahkannya untuk mencari plat baja ia bersama sang suami harus pergi ke Wonosobo.

"Sampai wonosobo, perkilogramnya sekarang mencapai Rp 10 ribu kalau beberapa bulan lalu masih di kisaran Rp 6 ribu," paparnya.

Sementara itu Hodirin menerangkan selain bahan baku untuk menjalankan usahanya ia membutuhkan arang jati yang kian lama kian sulit dicari.

"Arang jati sangat susah, kami mencari masih di daerah Batang, kalaupun ada paling hanya 10 kilogram, jadi ya harus terus mencari sampai ke daerah daerah," imbuhnya.

Adapun untuk harga sabit Hodirin mematok harga Rp 30 ribu dan cangkul di kisaran Rp 400 ribu.

"Kami satu di antara 15 pandai besi yang ada di Dukuh Wonosari, rata-rata kesulitan mencari bahan baku dan arang untuk pembakaran," kata Hodirin. (*)

Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help