TribunJateng/

Pelaku Mesum di Masjid Tuntang Tak Bisa Dijerat Pasal Perzinahan dan Penistaan Agama

Perbuatan asusila yang dilakukan antara MWJ (22) dengan FM (23) di Masjid At Taqwa Tuntang tidak digolongkan sebagai perbuatan zina

Pelaku Mesum di Masjid Tuntang Tak Bisa Dijerat Pasal Perzinahan dan Penistaan Agama
ist
Dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum Unnes, Cahya Wulandari. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Amanda Rizqyana

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Perbuatan asusila yang dilakukan antara MWJ (22) dengan FM (23) di Masjid At Taqwa Tuntang Kabupaten Semarang, tidak digolongkan sebagai perbuatan zina menurut hukum nasional yang berlaku di Indonesia. 

Demikianlah pendapat Dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum Unnes, Cahya Wulandari. 

Menurut Pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang dimaksud dengan zina adalah persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang sudah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan istri atau suaminya.

Serta persetubuhan dilakukan atas dasar suka sama suka, tidak boleh ada paksaan dari salah satu pihak.

"Pasal 284 KUHP dapat digunakan hanya untuk menjerat orang yang sudah menikah saja, sedangkan untuk orang yang belum menikah tidak dapat dikenakan pasal ini," terang Cahya Wulandari.

Adapun terkait dengan masyarakat yang menganggap kasus persetubuhan MWJ dan FM ini sebagai suatu bentuk penistaan agama karena telah dilakukan di masjid dan dapat dikenakan Pasal 156 KUHP, tidaklah tepat. Mengingat tidak semua unsur pasal dapat terpenuhi.

Menurutnya, walaupun akan dijatuhi pidana maka kemungkinan pasal yang dapat digunakan adalah Pasal 406 KUHP atas tindakan yang telah merusak CCTV yang dipasang dalam Mesjid At Taqwa Tuntang, Kabupaten Semarang.

Jika unsur-unsur dari Pasal 406 KUHP terpenuhi, pelaku dapat dihukum pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda paling banyak Rp 4.500,-. (arh)

Penulis: amanda rizqyana
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help