Psikolog: Pasangan Mahasiswa Berbuat Mesum di Masjid Tuntang karena Dirasa Aman

Dalam kasus ini pelaku melakukan di masjid karena pada waktu-waktu tertentu, karena biasanya sepi dari jemaah

Psikolog: Pasangan Mahasiswa Berbuat Mesum di Masjid Tuntang karena Dirasa Aman
tribunjateng/ist
Sepasang muda-mudi ditangkap warga karena diduga berbuat mesum di dalam masjid di Tuntang Kabupaten Semarang, Jumat (13/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Amanda Rizqyana

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Tindak asusila yang dilakukan oleh MWJ (22) dan FM (23) di Masjid At Taqwa Desa Sraten, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang pada pekan lalu menghebohkan masyarakat.

Selain karena kedua pelaku merupakan mahasiswa yang dirasa memiliki bekal pendidikan yang baik, mereka melakukan perbuatan bejat tersebut di tempat ibadah.

Perilaku tersebut dianggap bukanlah perilaku seorang yang berpendidikan. Terlebih warga mencurigai pelaku melakukan perbuatan tersebut lebih dari satu kali.

Kasus yang pekan ini ramai dibicarakan di jagad maya ini ditanggapi oleh Hesty Novitasari, S.Psi., psikolog dari Harmoni Familia Indonesia.

Menurutnya, dalam satu dekade terakhir terdapat pergeseran pandangan mengenai perilaku seksual, khususnya pada usia remaja dan dewasa awal.

Pada usia remaja dan dewasa awal, seringkali masyarakat tidak asing lagi dengan istilah “pacaran”, yaitu hubungan dua sejoli untuk saling mengenal dan memahami karakter pasangan satu sama lain, sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Namun saat ini makna pacaran sudah bergeser dimana pacaran identik dengan melibatkan keintiman secara fisik dengan melibatkan aktivitas seksual di dalamnya, baik dari tahapan berpegangan tangan hingga berhubungan badan dengan lawan jenis.

"Hal ini pula yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kedua sejoli tersebut beranggapan bahwa melakukan aktivitas seksual sebelum menikah merupakan aktivitas yang biasa dilakukan sebagai bagian dari romantisme dalam menjalin hubungan lawan jenis," terangnya.

Ditambahkan olehnya, ketika keduanya dalam kondisi memiliki hasrat seksual tidak terbendung, dilengkapi dengan adanya “kesempatan” (tempat, waktu dan situasi) yang mereka anggap memungkinkan melakukan aktivitas seksual, sehingga terjadilah perilaku tersebut.

Dalam kasus ini pelaku melakukan di masjid karena pada waktu-waktu tertentu, karena biasanya sepi dari jemaah.

Masyarakatpun tidak akan serta merta mencurigai aktivitas orang-orang yang berada di masjid, karena merupakan tempat beribadah.

Selain itu, pelaku juga merasa bukan orang yang dikenal oleh warga sekitar, sehingga pelaku menganggap bahwa kondisinya memungkinkan untuk melakukan perbuatan tersebut.

Ditinjau dari usia, kedua pelaku berada pada usia dewasa awal, dimana organ seksual sudah matang, dan berada pada usia reproduktif, yaitu usia dimana individu dianggap siap baik secara fisik dan mental untuk berumah tangga dan berketurunan.

Namun seringkali ditemui bahwa terdapat beberapa alasan untuk menunda pernikahan antara lain kesiapan secara finansial, mental, keterikatan status (sekolah/kuliah/kontrak kerja), dan sebagainya.
(arh)

Penulis: amanda rizqyana
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved