Ngopi Pagi

TAJUK: Dua Kali Ambruk

Perhatian sebagian masyarakat Indonesia tertuju kepada ambruknya jembatan nasional Babat-Widang yang menghubungkan Kabupaten Tuban-Lamongan

TAJUK: Dua Kali Ambruk
tribunjateng/bram
Iswidodo wartawan Tribunjateng.com 

Oleh Iswidodo

Wartawan Tribun Jateng

TRIBUNJATENG.COM - Perhatian sebagian masyarakat Indonesia tertuju kepada ambruknya jembatan nasional Babat-Widang yang menghubungkan Kabupaten Tuban-Lamongan, Jawa Timur, Selasa (17/4). Jembatan Cincin Lama membentang di atas Sungai Bengawan Solo, sepanjang 260 meter berupa rangka baja Callender Hamilton, selebar 7 meter tidak termasuk trotoar kiri kanan jembatan.

Jembatan yang dibangun tahun 1982an itu terdapat lima bentang, dan bangunan bawah berpondasi tiang pancang beton. Jika secara teknis usia jembatan rata-rata 25 tahun maka Jembatan Babat Lamongan tersebut terlalu tua yaitu sudah digunakan selama 36 tahun. Akibat ambruknya jembatan kondang ini, tiga truk dan satu sepeda motor terjun ke Sungai Bengawan Solo. Dua orang tewas, satu orang luka dan satu lagi masih dalam pencarian.
Apakah jembatan itu ambruk karena usia pemakaian sudah melebihi standarnya?

Bambang Soedjatmiko dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII menduga, ambruknya jembatan itu karena faktor usia dan tidak lagi mampu menahan beban dari kendaraan yang melintas. Jembatan ini hanya mampu menahan beban 8-10 ton. Tapi untuk lebih pastinya, BBPJN menunggu hasil investigasi tim dari pusat.

Polres Lamongan menyebut Selasa siang itu juga tim gabungan kepolisian, SAR dan TNI melakukan pencarian korban di sekitar jembatan. Masyarakat dan pengendara yang melintas pun menyaksikan proses evakuasi. Dan polisi pun melakukan sistem buka tutup bagi pengendara untuk melintas di Jembatan Cincin Baru yang ada di sebelah Jembatan Cincin Lama. Otomatis jembatan cincin baru digunakan dua arah.

Adanya musibah ini apakah pemerintah lalai? Bukankah tiap tahun ada perawatan jalan dan jembatan yang menjadi prioritas?. Bagaimana dengan jembatan-jembatan lain yang sudah berusia tua dan membahayakan.

Wakil Ketua Komisi V DPR dari fraksi PKS Sigit Sosiantomo menyesalkan ambruknya Jembatan Cincin Lama atau dikenal Jembatan Babat. "Kami prihatin dengan musibah ini. Terlebih ada korban jiwa. Seharusnya jembatan ini sudah diperbaiki atau diganti karena tua dan sudah berulang kali rusak. Dan ini kali kedua ambruk," kata Sigit.

Sigit menduga ada kelalaian pemerintah dalam peristiwa tersebut. Berdasarkan UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas Jalan dan Angkutan Jalan (LLAJ) pada pasal 275 ayat 3, setiap penyelenggara jalan yang tidak segera memperbaiki jalan rusak sehingga menimbulkan korban jiwa dapat dikenakan sanksi penjara paling lama lima tahun atau denda Rp 120 juta.

Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR menyebut, kerusakan tersebut pernah juga terjadi pada 2017. Kementerian PUPR membenarkan bahwa kerusakan Jembatan Cincin Lama terjadi tahun 2017. Pada akhir Oktober 2017 terjadi kerusakan di titik yang sama dan mengakibatkan turunnya pelat lantai.

Kala itu, baut penghubung badan cross girder lepas atau hilang sebanyak 5 buah tiap sisi. Kemudian pelat penyambung bagian bawah patah akibat getaran dampak kendaraan lewat. Karena pelat penyambung putus mengakibatkan penyambung flens bagian atas melengkung. Perbaikan pun telah selesai pada November 2017. Kementerian PUPR memastikan penanganan ambruknya Jembatan Cincin Lama segera dilakukan. Pihaknya langsung mengirim Tim Ahli Konstruksi ke lapangan. Sebelum Lebaran 2018, perbaikan tersebut harus sudah selesai. Hal ini untuk mengantisipasi arus mudik dan arus balik 2018. (*)

Penulis: iswidodo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved