Inilah Tanggapan Setya Novanto Setelah Divonis 15 Tahun Penjara

"Saya tetap menghormati, menghargai dan saya minta waktu untuk pelajari dan konsultasi dengan keluarga dan juga pengacara," ujarnya.

Inilah Tanggapan Setya Novanto Setelah Divonis 15 Tahun Penjara
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Terdakwa Kasus Korupsi Pengadaan KTP elektronik Setya Novanto mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (13/4/2018). Sidang tersebut mengagendakan pembacaan nota pembelaan (pledoi) dari terdakwa dan penasehat hukum. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ditemui seusai sidang vonis di ruang tunggu tahanan pengadilan, Novanto mengaku syok atas vonis yang diberikan majelis hakim kepada dirinya.

Ia mengaku kaget dan merasa tidak percaya atas hukuman tersebut. "Jujur saya syok sekali," ucap Novanto.

Hal itu dikarenakan ia melihat ada ketidaksesuaian antara pidana yang didakwakan oleh tim jaksa KPK dengan pembuktian selama proses persidangan.

Selain itu, ia selaku terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP juga merasa sudah bersikap kooperatif dengan pihak KPK. Pun saat menjalani proses persidangan.

Namun begitu, dia enggan menanggapi lebih banyak atas putusan itu. Dia mengaku akan berpikir ulang dan berdiskusi dengan kuasa hukum serta keluarganya.

"Saya tetap menghormati, menghargai dan saya minta waktu untuk pelajari dan konsultasi dengan keluarga dan juga pengacara," ujarnya.

Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta yang dipimpin oleh Yanto dalam putusannya menyatakan Novanto telah memenuhi unsur memperkaya diri sendiri, penyalahgunaan wewenang, serta telah merugikan negara ketika menjabat sebagai anggota DPR dan juga ketua Fraksi Golkar ketika proyek e-KTP dianggarkan.

Atas perbuatannya, hakim menjatuhkan hukuman selama 15 tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta atau kurungan penjara selama tiga bulan kepada Setya Novanto.

Novanto dianggap terbukti bersalah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama serta melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Majelis hakim memvonisnya dengan hukuman pidana penjara selama 15 tahun dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan.

Novanto dihukum membayar uang pengganti 7,3 juta Dolar AS dikurangi uang Rp 5 miliar yang telah dikembalikan Novanto ke KPK. Duit ini terkait penerimaan Novanto dari proyek pengadaan e-KTP.

Majelis hakim menyatakan, apabila Novanto tidak membayar hukuman uang pengganti dalam waktu 1 bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap, harta bendanya akan disita dan dilelang. Apabila harta yang disita tidak cukup untuk membayar uang pengganti, Novanto dipidana penjara selama 2 tahun.

Tak hanya itu, selain hukuman pidana penjara, Novanto dijatuhi hukuman tambahan berupa pencabutan hak politik. Novanto tidak mendapatkan hak untuk dipilih atau memilih selama 5 tahun ke depan setelah menjalani hukuman pidana.

Ketua majelis hakim Yanto dalam persidangan menyebutkan hal-hal memberatkan yang membuat vonis tersebut dijatuhkan. Perbuatannya termasuk kategori extraordinary crime dan bertentangan dengan program pemerintah yang sedang gencar memberantas korupsi.

Menanggapi hal itu, Setya Novanto yang berada di kursi pesakitan, mengatakan dirinya akan mempertimbangkan keputusan tersebut dan segera memberikan keputusan setelah tujuh hari dari pengucapan putusan. "Saya pikir-pikir dulu," ujarnya singkat. (Tribun Network/ryo/coz)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help