Jemaah MAJT Laksanakan Salat Ghaib untuk 5 Polisi yang Gugur

Jemaah salat Jumat di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Jumat (11/5/2018), melaksanakan salat ghaib untuk anggota polisi yang gugur

Jemaah MAJT Laksanakan Salat Ghaib untuk 5 Polisi yang Gugur
TRIBUN JATENG/M NUR HUDA
Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Jalan Gajah Raya Kota Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Jemaah salat Jumat di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Jumat (11/5/2018), melaksanakan salat ghaib untuk anggota polisi yang gugur akibat kekejaman narapidana terorisme di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Salat ghoib diimami oleh KH Ulil Absor dan diikuti oleh ribuan jemaah.

Menurut Ketua Dewan Pelaksana Pengelola (DPP) MAJT Prof Dr KH Noor Achmad, salat ghoib tersebut dilaksankan sebagai bentuk belasungkawa dan doa yang tulus dari umat Islam. Termasuk bentuk keprihatinan yg mendalam.

"Tentu saja semua pihak yang merasa sebagai warga negara Indonesia yang beradab wajib mengutuk keras perbuatan para teroris tersebut," tegas Noor Achmad, usai salat.

Ia mengatakan, gugurnya lima anggota Polri dalam tugas pengamanan Lapas Cabang Salemba di dekat Mako Brimob Depok, sungguh memprihatinkan dan perlu menjadi catatan tebal bagi semua pihak.

"Karena sungguh di luar nalar manusia waras kawanan narapidana teroris bertindak brutal merampas senjata, membunuh dan melawan aparat yang sedang bertugas," tandasnya.

Ia juga mengungkapkan, bisa jadi bagi teroris, aksi itu disebut sebagai jihad melawan pemerintah yang dianggap thoghut.

Jika demikian berarti Indonesia masih memiliki potensi kuat dijadikan sarang teroris, dan ingin menunjukan pada dunia bahwa mereka masih eksis di negeri ini.

Maka, lanjutnya, kerusuhan di Lapas Cabang Salemba inipun perlu menjadi alarm bahaya bagi bangsa Indonesia. Bahwa perilaku para teroris tidak akan pernah berhenti memanfaatkan situasi, dan mereka selalu siap mengekspresikan diri di mana pun dan kapan pun.

"Penyadaran terhadap teroris yang selama ini dipamerkan harus diuji secara idiologis. Jangan sampai tertipu dengan telah mengikuti upacara bendera mengikuti doktrinasi Pancasila, pelatihan belanegara , dan lainnya," katanya.

Sebab, lanjut Noor Achmad, ruh jihad dengan jalan perang membunuh musuh masih lekat di pikiran para teroris itu. Sebab doktrinasi itu tidak begitu mudah lepas hanya dengan kurungan penjara dan putusan pengadilan.

Pembinaan yang bersifat persuasif dan komunikatif pun tidak cukup berhasil dilakukan untuk menyadarkan mereka kembali cinta Indonesia dan meninggalkan ideologi radikalnya.

"Pemaknaan tentang jihad yg salah inilah yg menjadikan jihad oleh teroris ini berubah menjadi sangat liar, jahat dengan menggunakan kedok agama," katanya.

Oleh karena itu butuh ketegasan aparat dalam menghadapi suasana yang genting. Maka dari itu perlu diapresiasi terhadap tindakan aparat yang telah melumpuhkan para teroris.

"Menjaga dan menjunjung tinggi HAM itu tetap penting dan menjadi bagian yg harus dihormati bersama. Namun ketegasan hukum sesuai prosedur tata perundangan itu lebih utama untuk memberi rasa aman kepada masyarakat," tuturnya.(*)

Penulis: m nur huda
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help