Rektor Unika: Kami Tidak Mau Tergulung Ombak

“Itu sudah kami coba bahkan sejak September 2017 lalu. Yang kami laksanakan adalah perkuliahan e-learning terintegrasi,"

Rektor Unika: Kami Tidak Mau Tergulung Ombak
TRIBUNJATENG/ALEX

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tidak berbeda jauh dengan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dalam menyikapi tuntutan pendidikan tinggi di era disruptif, dimana pendidikan pun harus semakin semakin siap menyambut Revolusi Industri 4.0, Unika Soegijapranata Semarang pun demikian.

Rektor Unika Soegijapranata Semarang Prof Dr F Ridwan Sanjaya bahkan menandaskan komitmennya agar kampus yang dipimpinnya saat ini tidak tergulung oleh ombak. Tetapi harus bisa menunggangi ombak yang sedang bergulung itu.

“Itu istilah yang sedang kami sosialisasikan di internal Unika Soegijapranata Semarang. Sebagai penyemat serta motivasi untuk terus lakukan beragam lompatan secara kreatif dan inovatif dalam menghadapi era serba digital dimana perkembangannya sangat pesat,” tukasnya.

Kepada Tribunjateng.com, Senin (14/5/2018), Ridwan pun mencontohkan terkait tuntutan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI untuk perguruan tinggi mulai bisa melaksanakan perkuliahan jarak jauh (PJJ) atau kuliah dalam jaringan (daring) secara online tersebut.

“Itu sudah kami coba bahkan sejak September 2017 lalu. Yang kami laksanakan adalah perkuliahan e-learning terintegrasi. Begitu mahasiswa mendaftarkan atau mengisi kartu rencana studi (KRS) di tiap semesternya, secara otomatis terkoneksikan dengan dosen yang akan mengajar pada matakuliah itu,” lanjutnya.

Dalam sistem itu, lanjutnya, baik antara mahasiswa serta dosen, dapat berdiskusi untuk menentukan jadwal perkuliahan maupun konsep yang hendak diterapkan pada mata kuliah tersebut.

“Prinsipnya, bisa menerapkan kuliah jarak jauh melalui video conference. Tetapi harus ada kesepakatan terlebih dahulu antara dosen serta mahasiswa bersangkutan. Namun untuk sementara ini, belum murni atau full online,” terangnya.

Menurutnya, masih perlu adanya keseimbangan antara tatap muka dengan sistem perkuliahan jarak jauh tersebut. Untuk sementara waktu ini, hybrid learning tersebut sebagai bagian dari perkuliahan, sebagai upaya penyesuaian diri.

“Jadi ketika murni dipersiapkan, tidak kaget. Dan kami pun sedang mempersiapkan untuk 100 persen pembelajaran jarak jauhnya. Dari sisi teknologi kami sudah siap, tinggal pengajuan izinnya saja ke Pemerintah Pusat. Termasuk kaitannya mata kuliah apa yang akan diterapkan melalui sistem tersebut,” tandasnya. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help