Himawan : Wonotunggal, Batang, akan Dijadikan Taman Peradaban Sejarah

Peninggalan sejarah tersebut di antaranya situs Brokoh yang memuat arca (epos) Karivaradha yang sangat jarang ditemukan di Indonesia

Himawan : Wonotunggal, Batang, akan Dijadikan Taman Peradaban Sejarah
Tribunjateng.com/Dina Indriani
Camat Wonotunggal, Himawan (kanan) saat mengunjungi salah satu wisata Curug Sigandul, Desa Sodong, Kecamatan Wonotunggal beberapa waktu lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dina Indriani.

TRIBUNJATENG.COM,BATANG - Kecamatan Wonotunggal, Batang, ternyata juga menyimpan sejarah klasik, hal itu dapat dibuktikan dengan peninggalan sejarah yang masih dapat dijumpai sampai saat ini.

Peninggalan sejarah tersebut di antaranya situs Brokoh yang memuat arca (epos) Karivaradha yang sangat jarang ditemukan di Indonesia, bahkan  bahkan situs baru ditemukan di Batang dan di daerah Sumatera.

Tak hanya itu, terdapat pula Situs Silurah yang terletak di Desa Silurah, yang memuat Arca Dewa Ganesha yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-7 masehi pada masa Wangsa Sanjaya, dam Arca tersebut diklaim sebagai arca terbesar di Asia Tenggara.

Adanya temuan peninggalan sejarah tersebut, Camat Wonotunggal Himawan mengatakan bahwa ada beberapa pihak yang terdorong untuk menjadikan Wonitubggal sebagai Taman Peradaban Sejarah.

“Temuan-temuan cagar budaya yang bersejarah tersebut mendorong Universitas Indonesia untuk menjadikan Wonotunggal sebagai Taman Peradaban Sejarah Indonesia (TPSI),” tutur Camat Wonotunggal, Himawan kepada Tribunjateng.com, Rabu (16/5/2018).

Ia mengatakan bahwa gagasan tersebut saat ini sedang dikaji dengan oleh tim yang dipimpin oleh Prof Kusnanto, sedangkan Pemda juga akan membentuk tim sendiri untuk mengkaji lebih jauh.

"Minggu lalu pada hari Jumat kami sedang rapatkan mengenai taman peradaban itu dengan tim peneliti, Realisasi TPSI akan melakukan berbagai tahapan, paling tidak dapat terealisasi di tahun 2019,” tuturnya.

Himawan menerangkan bahwa kajian awal menyebutkan Taman Peradaban Sejarah Indonesia (TPSI) membutuhkan lahan sekitar 50 hektare.

Lahan tersebut nantinya melibatkan di desa Silurah, Sodong, Kedung Malang dan Gringgingsari serta lahan milik Perhutani, sedangkan dana pembangunan berasal dari Pemerintah Pusat.

“Terkait pembebasan lahan akan diselesaikan oleh tim TPSI dan seluruh pekerjaan TPSI akan melibatkan warga setempat,” jelasnya.

Dengan adanya kehadiran Taman Peradaban Sejarah Indonesia sebagai wisata sejarah Budaya, Himawan berharap bisa menjadi magnet baru bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi Kabupaten Batang.

“Dengan adanya keberadaan Taman peradaban diprediksi akan mendorong masuknya Investor di Kabupaten Batang,” pungkasnya. (*)

Penulis: dina indriani
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help