FOCUS

Melawan Keluarga Teroris

Mirisnya anak-anak yang masih sangat minim pengetahuan, diajak bunuh diri oleh orang-orang terdekat mereka atau keluarga.

Melawan Keluarga Teroris
tribunjateng/grafis/bram kusuma
Tajuk ditulis oleh wartawan Tribun Jateng, Erwin Ardian 

Tajuk ditulis oleh wartawan Tribun Jateng, Erwin Ardian

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Perang terhadap teroris terus berlanjut. Setelah serangan beruntun diawali dengan kerusuhan di ruang tahanan Mako Brimob, kelompok peneror terus berulah dengan menyerang tempat-tempat umum.

Mereka tak pandang bulu dalam memilih korban. Warga yang tak bersalah pun tewas karena serangan bom di tiga gereja di Surabaya. Seolah ingin menegaskan mereka serius ingin berperang, serangan teroris terus berlanjut ke Mapolrestabes Surabaya.

Hal baru dalam serangan kali ini dibanding serangan-serangan serupa sebelumnya, para teroris mulai melibatkan anak-anak untuk ikut menjadi martir bunuh diri.

Mirisnya anak-anak yang masih sangat minim pengetahuan, diajak bunuh diri oleh orang-orang terdekat mereka atau keluarga.

Dalam peristiwa pengeboman di gerbang Polrestabes Surabaya, Tri Murtiono bersama istri dan tiga anaknya melakukan aksi bom bunuh diri. Anak bungsu Tri Murtiono bernama Ais (8) tidak ikut tewas bersama kedua orang tuanya.

Tindakan nekat Tri sekeluarga dilakukan sehari setelah keluarga Dita Oepriyanto (Ketua Jamaah Ansharut Daulah/JAD Surabaya) melakukan aksi serupa di tiga gereja di Surabaya, Minggu pagi. Minggu malamnya rumah Anton Febrianto di rusunawa Wonocolo, Kecamatan Taman, Sidoarjo meledak.

Dari hasil penyelidikan polisi tiga kepala keluarga yang menjadi pengebom saling mengenal. Tri dan Anton berguru kepada Dita. Mereka bertemu setiap minggu di rumah Dita. Model baru para teroris dengan melibatkan keluarga ini layak diwaspadai.

Secara kasat mata, jika mereka menanamkan paham dalam keluarga sendiri, akan lebih sulit terlihat. Ini tentu berbeda jika jaringan teroris merekrut perorangan. Tentu ada kemungkinan anggota keluarga orang yang direkrut akan menaruh curiga.

Di sinilah peran warga sekitar yang dituntut lebih jeli melihat lingkungan sekitar. Sebagai contoh, satpam perumahan tempat tinggal Dita sebenarnya sudah melihat gelagat aneh keluarga itu beberapa jam sebelum melakukan pengeboman. Satpam melihat sekeluarga berpelukan sambil menangis di depan rumah.

Tak hanya itu, sosok Dita sebenarnya bukan orang baru dalam dunia teror. Dita diketahu memiliki jabatan tinggi yakni sebagai Ketua Jamaah Ansharut Daulah/JAD Surabaya. Dita juga diketahui sering bolak balik ke Suriah.

Seperti para penebar teror yang makin kreatif dalam melakukan aksinya, aparat kita yang ditunjang dengan peralatan lengkap dan dana besar tentu harus tak kalah kreatif untuk menumpas teroris.

Namun tak bijak jika hanya membebankan perang melawan teroris hanya kepada aparat. Dukungan warga sangat vital mengingat para teroris tinggal dan berkegiatan untuk menyiapkan teror di tengah lingkungan warga. (tribunjateng/cetak/ear)

Penulis: erwin adrian
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help