Nanik, Istri Priyono Terdakwa Perkara Penerimaan Uang Hadiah Pengurusan Tanah Dihadirkan

Nanik Riani, istri dari Priyono, mantan Kepala Kantor BPN Semarang yang didakwa atas kasus penerimaan hadiah uang pengurusan hak atas tanah

Nanik, Istri Priyono Terdakwa Perkara Penerimaan Uang Hadiah Pengurusan Tanah Dihadirkan
Ilustrasi persidangan 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hesty Imaniar

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Nanik Riani, istri dari Priyono, mantan Kepala Kantor BPN Semarang yang didakwa atas kasus penerimaan hadiah uang pengurusan hak atas tanah, yang menjerat suaminya itu, dihadirkan dalam keterangan saksi, di Pengadilan Tipikor, Semarang, Rabu (16/5/2018).

Nanik Riani dalam keterangannya didepan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor, membeberkan sejumlah keterangan terkait pembelian rumah dan mobil, dalam kasus dugaan penerimaan hadiah uang pengurusan hak atas tanah mencapai Rp 8,6 miliar dari pihak ketiga itu.

Dihadapan Majelis Hakim yang dipimpin Hakim Antonius Widijantono, Nanik menyampaikan, bahwa rumah di Jogja, awalnya dibeli dalam keadaan tanah kosong, karena berupa kebun, dengan luas sekitar 350 meter.

Tanah tersebut, dibeli dengan menggunakan uang dari gaji dan tunjangan lain yang diberikan dari suami. Kemudian tanah tersebut, dibangun rumah sekitar tahun 2015, karena memang dirinya dan suami berangan-angan memiliki rumah di Jogja.

"Tapi selain dari suami, juga ada tambahan dari deposito tabungan saya. Kalau menerima uang dari Soni, Arif, Awaludin, Agung Wibowo, Kamaludin, dan dari yayasan, saya tidak pernah, saya bahkan tidak kenal dengan mereka," jelasnya.

Sementara, terkait tanah di Ungaran, ia mengaku mengetahui pembeliannya, namun tidak begitu detail terkait harga dan lainnya. Sedangkan untuk tanah di Pekalongan, ia mengaku tidak mengetahui hal itu, karena suaminya tidak pernah cerita.

"Bapak (Priyono-red) biasanya transfer ke rekening saya, tapi saya tidak. ingat jumlahnya, memang pernah juga transfer sampai Rp 100 juta,  tapi cuma pindah saja," bebernya di persidangan itu.

Nanik juga ditanya oleh Majelis Hakim, untuk mobil Honda Jazz, yang sudah disita penyidik kejaksaan. Ia mengaku, pembeliannya merupakan hasil dari penjualan mobil sebelumnya, yang dibeli secara DP pertama sebesar Rp 5 juta.

"Kalau mobil CRV belinya baru. Itu dulu beli tahun 2012 dibeli dari tabungan saya, dibeli secara tunai untuk pembayarannya," katanya.

Selain Nanik, dalam persidangan tersebut, juga dihadirkan ahli Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Muhammad Novian, yang merupakan Ketua Kelompok Advokasi PPATK.

Dalam keterangannya ia mengatakan, modus operandi dalam kasus Tipikor, pelaku sering menggunakan rekening atas nama orang lain, biasanya bisa dari keluarga,  sahabat, dan orang terdekat terdakwa.

"Untuk melihat kesalahan pelaku harus dilihat apakah ada perintah, atau permintaan," terangnya. (*)

Penulis: hesty imaniar
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help