Teror Bom Surabaya

Para Pengebom Saling Kenal dan Ingin 'Masuk Surga' Bareng-bareng, Polisi Buru Pendoktrin

Padahal sebenarnya mereka tak boleh sekolah. Anak-anak didoktrin terus, ditontonkan video mengenai teroris,"

Para Pengebom Saling Kenal dan Ingin 'Masuk Surga' Bareng-bareng, Polisi Buru Pendoktrin
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
PENGGELEDAHAN - Polisi memasang garis polisi paska pengeledahan rumah terduga teroris di Jalan Kapi Sraba, Perumahan Sawojajar 2, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Senin (14/5/2018). Penggeledahan rumah ini dilakukan Polisi paska ditangkapnya seorang wanita berinisial SR (49) dalam kasus serangan teror bom di Surabaya. SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO 

TRIBUNJATENG.COM, SURABAYA - Polisi menemukan sejumlah bahan peledak ketika melakukan penggeledahan di rumah Tri Murtiono, pengebom Polrestabes Surabaya. Penggeledahan berlangsung sekira 3,5 jam, Selasa (15/5), di rumah kontrakan Tri Murtiono, kawasan Tambak Medokan Ayu, Gang 6, Rungkut, Surabaya.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan hadir di lokasi penggeledahan. Namun Kapolrestabes belum bisa memberikan keterangan detail mengenai jumlah dan jenis bahan peledak yang ditemukan di rumah tersebut.

"Ada bahan peledak, tapi belum bisa beri keterangan pasti, kasih waktu kami bekerja," ujar Kapolrestabes Surabaya. Selama penggeledahan tidak terdengar ledakan.

Tri Murtiono bersama istri dan tiga anaknya melakukan aksi bom bunuh diri di pintu gerbang Polrestabes Surabaya, Senin pagi. Dalam aksi itu, anak bungsu Tri Murtiono bernama Ais (8) tidak ikut tewas.

Aksi Tri Murtiono sekeluarga terjadi sehari setelah keluarga Dita Oepriyanto (Ketua Jamaah Ansharut Daulah/JAD Surabaya) melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu pagi. Pada malam harinya terjadi ledakan di rumah Anton Febrianto, di rusunawa Wonocolo, Kecamatan Taman, Sidoarjo.

Para pengebom itu saling mengenal satu sama lain. Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin menjelaskan Tri Murtiono dan Anton Febrianto berguru kepada Dita. Mereka ini melakukan pertemuan setiap minggu di rumah Dita, kawasan Rungkut, Surabaya.

"Mereka ini satu jaringan, satu guru. Gurunya Dita. Mereka didoktrin pemahaman teror," jelas Machfud di Polda Jatim, Surabaya, Selasa. Machfud menuturkan, mereka berkumpul setiap minggu sejak lama.

Selain menerima doktrin, Tri dan Anton juga menonton film-film soal terorisme. Tidak hanya para orangtua, kata Machfud, anak-anak mereka juga ikut mendengarkan doktrin dari Dita.

"Bahkan, anak-anak pelaku dilarang sekolah. Kalau ditanya, mereka bilang (anak-anak) ikut home schooling. Padahal sebenarnya mereka tak boleh sekolah. Anak-anak didoktrin terus, ditontonkan video mengenai teroris," ujar Machfud.

Kapolda menambahkan ada seorang anak Anton Febrianto yang tak mau ikut kelompok itu. Dia memilih ikut neneknya dan memutuskan untuk bersekolah.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help