Home »

News

» Jawa

Teror Bom Surabaya

Prajoko Syok Lihat Ponakan Kena Bom Saat Beribadah

di halaman Gereja Santa Maria Tak Bercela. "Sesampainya di halaman, saya melihat anak-anak sudah tergeletak

Prajoko Syok Lihat Ponakan Kena Bom Saat Beribadah
surya/ahmad zaimul
BOM GEREJA - Polisi menyisir di sekitar lokasi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jl Arjuno, Surabaya, Minggu (13/5). Ledakan terjadi di tiga lokasi di Surabaya, yakni di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), dan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela pada waktu yang hampir bersamaan. SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ 

TRIBUNJATENG.COM - Sebuah peristiwa mengharukan terjadi di Rumah Duka Adi Jasa, Surabaya, Selasa (15/5). Ibu kandung dari dua anak yang tewas akibat ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Weni Angelina, dibawa ke rumah duka itu untuk melihat jenazah korban.

Weni juga menjadi korban ledakan bom sehingga harus datang ke rumah duka menggunakan tempat tidur beroda (emergency bed) yang dibawa menggunakan ambulans. Jenazah Nathan (11) dan Evan (8) berada di ruang pendingin.

Ia sempat berhenti sekitar 10 meter sebelum masuk ke ruang pendingin, Ia tak dapat menahan tangis, keluarga dan kerabat berusaha menenangkan. Sampai akhirnya ia dibawa masuk.

Paman Nathan dan Evan, Jo Prajoko mengatakan, Weni baru diberitahu oleh pihak keluarga mengenai meninggalnya sang anak pada Senin malam. "Ibunya tadi berdoa ketika melihat Nathan dan Evan di ruang pendingin," kata Jo.

Ia mengungkapkan, keluarga besar sangat terpukul saat mendengar berita pengeboman di Gereja Santa Maria Tak Bercela yang merenggut nyawa Nathan dan Evan. "Keluarga sangat kehilangan. Oma dan seluruh keluarga ngedrop (terpukul) karena dua cucunya sekaligus telah tiada," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu Jo menceritakan saat peledakan bom bunuh diri. Berawal ketika ia mengantar Evan, Nathan, Weni, dan Evelin, untuk beribadah di Gereja Santa Maria Tak bercela. Setelah mereka turun dan berjalan menuju gereja, terdengar suara ledakan bom.

"Waktu itu Oma ikut mengantar Evan, Nathan, Weni, dan Evelin. Setelah mobil berjalan meninggalkan mereka yakni sekitar 10-15 meter dari gereja, mendadak bom meledak," katanya.

Setelah bom itu meledak, ia menoleh ke belakang. Ia melihat kaca mobilnya retak akibat getaran bom. "Setelah melihat kaca mobil retak saya langsung turun. Saya bilang kepada Oma bahwa ini bom," ucap Jo.

Ia bergegas ke lokasi ledakan yang ternyata berada di halaman Gereja Santa Maria Tak Bercela. "Sesampainya di halaman, saya melihat anak-anak sudah tergeletak," terangnya.

Jo mengaku lemas, saat melihat keluarganya terluka. Ia sontak menggendong Evan dan dibantu oleh seorang security untuk menggendong Nathan. "Meski lemas saya harus menolong anak-anak," katanya.

Jo mengatakan, Evan mengalami luka di bagian kepala, sedangkan Nathan mengalami luka di bagian kaki. Keduanya sama-sama terluka parah.

Sedangkan Weni dan Evelin masih sadar dan bisa bicara. "Evan dan Nathan langsung saya bawa ke Rumah Sakit Bedah Manyar,'' tuturnya sambil menghela nafas.

Ia mengutuk kejadian bom bunuh diri yang menimpa sanak saudaranya. "Karena kan tidak pandang bulu. Saya mengutuk keras sekali," tegasnya. Hari pemakaman Nathan dan Evan masih belum dapat dipastikan oleh pihak keluarga. (tribunjateng/cetak/surya)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help