Tadarus

Puasa Ramadan Rasulullah

Puasa Ramadan Rasulullah. Ditulis oleh KH Dr Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI. Lalu bagaimana Rasulullah SAW menyiapkan

Puasa Ramadan Rasulullah
tribunjateng/cetak
KH Dr Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI 

Ditulis oleh KH Dr Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI

TRIBUNJATENG.COM - Walhamdulillah hari ini tiba bulan Ramadan yang kita tunggu-tunggu sejak beberapa bulan lalu. Umat ada yang fokus menyiapkan rohani dan fisik untuk menyambut bulan Ramadan.

Lalu bagaimana Rasulullah SAW menyiapkan dan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan? Sejak usai menjalankan ibadah puasa Ramadan dan melanjutkan puasa enam hari di bulan syawal, Rasulullah SAW langsung menyiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadan berikutnya.

Rasulullah SAW rutin puasa Senin dan Kamis. Ketika memasuki bulan Rajab, dua bulan menjelang bulan puasa, Rasulullah berdoa, "Allahumma barik lana fi rajaba wa sya'bana wa ballighna Ramadana (Ya Allah berkahilah di bulan Rajab dan bulan Sya'ban serta sampaikan (umur) kami di bulan Ramadan)."

Rasulullah memerintahkan umatnya agar memulai puasa di bulan Ramadan karena telah melihat bulan, dan mengakhiri bulan Ramadan untuk berlebaran karena melihat bulan. Jika bulan tak terlihat karena mendung, sempurnakan hitungan hari pada bulan Sya'ban atau bulan Ramadan sampai tiga puluh hari.

Hadits riwayat Abu Daud dan An-Nasa'i ini menggambarkan betapa berhati-hatinya Rasulullah dalam menghitung masuknya bulan Ramadan dan selesainya kewajiban berpuasa. Sehingga karena tak bisa melihat bulan, hitungan harinya disempurnakan menjadi tiga puluh seperti Ramadan tahun ini. Dalam hitungan kalender hijriyah hanya berkisar antara 29 hari atau 30 hari.

Perbedaan sudut pandangan muncul. Apa yang dimaksud dengan melihat bulan sebagai penentu masuknya bulan Ramadan dan mulainya berlebaran?

Sebagian ulama ada yang menganggap melihat bulan itu harus langsung menggunakan mata telanjang. Biasanya bulan dapat dilihat (imkanurru'yah) manakala ketinggian hilal di atas dua derajat.

Pendapat ini mengartikan cara melihat bulan yang diajarkan oleh Hadits adalah bersifat ta'abbudi (ibadah) sehingga tak dapat diterjemahkan secara rasional menggunakan ilmu astronomi saja. Adapun pendapat lain, melihat bulan itu bisa menggunakan mata telanjang dan dapat juga dilihat menggunakan ilmu astronomi (falak).

Menurut pendapat kedua ini, masuknya bulan Ramadan dan mulai lebaran dapat ditentukan menggunakan ilmu falak, yaitu wujudul hilal (adanya bulan) di ufuk meskipun tak harus dilihat oleh mata karena mendung atau karena dibawah dua derajat.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help