Opini

Puasa, Takwa dan Syukur

Puasa, Takwa dan Syukur. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu,

Puasa, Takwa dan Syukur
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Opini ditulis oleh DR Mohammad Nasih, M.Si, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; 

Opini ditulis oleh DR Mohammad Nasih, M.Si, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; Guru Utama di Rumah Perkaderan & Tahfidh al-Qur’an MONASH INSTITUTE Semarang

TRIBUNJATENG.COM -Puasa merupakan kewajiban yang telah ada sebelum Islam. Umat Yahudi dan Nasrani telah menjalankannya sebagai kewajiban dari Allah. Karena itulah, Alquran menegaskan secara terbuka bahwa kewajiban puasa telah diberlakukan atas umat-umat sebelum Islam. Tujuannya adalah untuk memberikan ujian ketakwaan, karena puasa adalah ibadah yang diketahui secara pasti oleh Allah dan pelakunya saja.

“Wahai orang-orang yang beriman, ditetapkan atas kalian puasa, sebagaimana ditetapkan atas orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS al-Baqarah: 183)

Teknis puasa umat-umat terdahulu itu bahkan ditiru secara persis dari umat-umat terdahulu, di antaranya berkaitan dengan waktu pelaksanaannya selama sehari semalam. Dengan kata lain, puasa dilakukan dalam hampir 24 jam. Tentu saja, ini merupakan ibadah yang tidak ringan.

Namun demikian, dan ini merupakan perbedaan yang lain, kewajiban puasa bersifat tidak mutlak. Maksudnya, jika seorang muslim tidak melaksanakannya karena suatu hal, boleh saja, dengan syarat menggantinya dengan memberikan fidyah yaitu memberikan makan kepada minimal satu orang miskin. Jika lebih dari satu orang, itu lebih baik. Namun, di atas semua itu, menjalankan ibadah puasa ditegaskan masih lebih baik lagi.

“(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 184)

Titik tekan pelaksanaan puasa untuk umat-umat sebelum Islam adalah takwa. Dengan teknis pelaksanaan yang berat, akan benar-benar terseleksi mana orang-orang yang benar-benar bertakwa dan mana orang-orang yang tidak tahan menghadapi godaan.

Karena puasa harus bersambung selama sehari semalam, maka tidak sedikit sahabat yang gagal melaksanakannya. Bahkan yang gagal, dan bisa dikatakan menyebabkan kegagalan pihak lain, tidak hanya sahabat dari kalangan menengah bawah, tetapi juga sahabat golongan elite.

Qays bin Shirmah misalnya, yang mewakili golongan bawah, gagal melaksanakan puasa, karena pekerjaannya sebagai petani terbilang cukup berat. Suatu ketika ia pulang pada waktu berbuka. Namun di rumah ternyata tidak terdapat makanan untuknya berbuka. Istrinya menawarkan untuk mencarikan makanan untuknya. Namun, pada saat pulang dengan membawa makanan, Qays tertidur dengan pulasnya. Padahal, apabila telah tidur, maka tidak boleh makan dan harus memulai puasa untuk hari berikutnya. Karena terlalu lapar, pada siang hari berikutnya yang dia harus bekerja, Qays jatuh pingsan.

Sedangkan dari kalangan elite adalah istri Umar Bin Khaththab. Ia batal puasa karena Umar Bin Khaththab pulang agak terlambat. Beliau ingin memanfaakan waktu berbuka untuk berhubungan intim dengan istrinya. Namun, ternyata istrinya telah tertidur sebelumnya. Istrinya mengatakan perihal dirinya yang telah tertidur. Namun, Umar tidak percaya, sehingga menyebabkan istrinya batal puasa. Kejadian-kejadian tersebut, dan ternyata juga terdapat kejadian yang serupa pada banyak sahabat yang lain diceritakan kepada Rasulullah. Karena itulah, kemudian turun ayat yang memberikan keringanan kepada umat Islam. Puasa Ramadlan tidak lagi sepanjang sebelumnya, akan tetapi hanya pada siang harinya saja. Sementara pada malam hari, mereka tidak wajib berpuasa.

Namun, puasa juga tidak lagi menjadi wajib pilihan, melainkan bersifat mutlak. Siapa pun yang tidak memiliki udzur syar’i, wajib melaksanakannya. Keringanan yang diberikan kepada umat Islam, terutama pengurangan waktu puasa yang hampir 50%, merupakan bentuk kemudahan yang selayaknya disyukuri. Sebab, dengan puasa yang lebih ringan kemungkinan untuk menjalankannya dalam satu bulan penuh menjadi lebih besar.

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”(al-Baqarah: 184)

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (al-Baqarah: 187).

Pada ayat terakhir di atas, puasa yang hanya pada siang hari saja, tetap bisa menjadi sarana umat Islam untuk meraih ketakwaan kepada Allah Swt.. Sebab, puasa selama sehari itu pun bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengidentifikasi mana orang-orang yang benar-benar menjalankan perintah Allah dan menajuhi larangannya. Konteksnya dalam bulan Ramadlan adalah menjauhi perbuatan-perbuatan yang bahkan dalam bulan selain Ramadlan sesungguhnya diperbolehkan atau bahkan diperlukan. Wallâhu a’lam bi al-shawâb. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved