Sekitar Tujuh Ribu Keluarga Masih Buang Air Besar Sembarangan di Kabupaten Semarang, Benarkah?

Bambang Siswanto (22) menceritakan pengalamannya ketika melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Desa Kalikayen Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang.

Sekitar Tujuh Ribu Keluarga Masih Buang Air Besar Sembarangan di Kabupaten Semarang, Benarkah?
tribunjateng/khoirul muzaki
Lebih dari separuh penduduk Banjarnegara diindikasikan masih Buang Air Besar (BAB) sembarangan. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Amanda Rizqyana

TRIBUNJATENG.COM - Bambang Siswanto (22) menceritakan pengalamannya ketika melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Desa Kalikayen Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang.

Lokasi yang berada di antara Kabupaten Semarang dan Kota Semarang masih memiliki tugas besar untuk menyadarkan pada warga mengenai pentingnya kesehatan lingkungan, khususnya sanitasi.

"Masih banyak warga yang buang air besar di sungai atau sendang meskipun mereka memiliki kamar mandi atau WC," urai koordinator mahasiswa KKN Unnes pada Jumat (18/5/2018) siang.

Hal tersebut diakuinya karena keadaan yang memaksa mereka buang air besar sembarangan. Karena sumber air para warga merupakan sumur dan mengandalkan pompa air listrik, sehingga bila terjadi pemadaman listrik, warga akan mencari sungai atau sendang. Bila keadaan mendesak, warga buang air besar di halaman rumah dan menutup tinja menggunakan pasir atau dedaunan

Menanggapi hal tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang menggalakan program Open Defecation Free (ODF) atau Kabupaten Semarang Stop Buang Air Besar Sembarangan untuk tahun 2018. Hal tersebut berdasarkan laporan masih ditemukannya angka buang air besar sembarangan di 15 kecamatan dari total 19 kecamatan di Kabupaten Semarang.

Rupanya di wilayah Kabupaten Semarang masih ada sekitar tujuh ribu lebih keluarga yang masih Buang Air Besar Sembarang (BABS). Untuk menekan jumlah BABS dan mendukung kesehatan masyarakat, pemerintah mengajak masyarakat terlibat program tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, dr Ani Rahardjo menyatakan akses sanitasi oleh masyarakat telah mencapai angka 97,76%. Terkait penggunaan jamban di rumah tangga, Ani menyebut jumlah kepala keluarga (KK) yang telah mengakses jamban sehat permanen sebanyak 225.472 KK. Sedangkan yang menggunakan jamban semi permanen 41.664 KK, dan masih ada sekitar 7.391 KK yang melakukan BABS.

"Khusus di wilayah 27 kelurahan, dari sekitar 61 ribu KK, masih terdapat dua ribu KK yang melakukan BABS," kata Ani.

Untuk segera mempercepat Kabupaten Semarang bebas BABS dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak seperti perusahaan dan masyarakat, serta pemerintah provinsi dan pusat. Ani mengungkapkan organisasi profesi kesehatan dan Baznas juga pernah membantu pembangunan sarana BAB di lingkungan warga.

Di tahun 2018 ini Pemerintah Kabupaten Semarang juga mendapat bantuan dana alokasi khusus sebesar Rp 8,208 miliar untuk pembangunan instalasi pengolahan limbah (ipal) komunal. Bantuan dari Pemerintah Pusat itu akan dimanfaatkan di 19 desa/kelurahan di empat kecamatan. Yakni enam kelurahan di Kecamatan Ambarawa, delapan desa di Ungaran Timur, empat desa di Ungaran Barat, dan satu desa di Pringapus.

Selain bantuan tersebut, juga terdapat bantuan hibah berupa material bangunan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk pembangunan IPAL senilai Rp 161 juta untuk 230 titik di satu desa di Kecamatan Jambu . Di Kecamatan Pringapus terdapat dua desa, dan masing-masing satu desa di Kecamatan Bancak dan Banyubiru.

“Bantuan dana alokasi khusus dan hibah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah itu sebagai bukti kesungguhan usaha Pemerintah Kabupaten Semarang mewujudkan penghentian BABS," katanya.

Bupati H Mundjirin menegaskan pembangunan sanitasi dan akses air bersih terutama di tingkat rumah tangga menjadi perhatian penuh Pemkab Semarang. Hal tersebut karena perilaku sehat masyarakat terkait pengelolaan limbah rumah tangga berpengaruh pada mutu sumber daya manusia.

“Mengubah perilaku warga terutama buang air besar sembarangan bukanlah hal mudah. Perlu kerja keras bersama untuk menyadarkan mereka agar mau menggunakan jamban serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan,” terang Mundjirin. (*)

Penulis: amanda rizqyana
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help