Ramadan 2018

Berusia 202 Tahun, Masjid Besar Suruh Masih Kokoh Berdiri

Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri

Berusia 202 Tahun, Masjid Besar Suruh Masih Kokoh Berdiri
tribunjateng/ponco wiyono
Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri 

Laporan wartawan Tribun Jateng, Ponco Wiyono

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Bagi mereka yang pertama kali berkunjung, akan langsung terasa keistimewaaannya begitu mendekat ke halaman masjid. Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya, mulai dari pintu, jendela, tiang-tiang penyangga hingga beduk yang senantiasa mengingatkan warga sekitar saat jam salat wajib tiba.

Jumat (18/5/2018) siang, warga sudah memenuhi masjid hingga ke bagian teras yang dibangun belakangan. Mereka khusyuk mendengarkan ceramah khatib salat Jumat pada pekan pertama Ramadan. Ceramah disampaikan dalam bahasa Jawa krama halus, dan pada pukul 12.30 lebih sedikit, ibadah Jumat berakhir.

Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri
Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri (TRIBUNJATENG/PONCO WIYONO)

"Ini dibuat dari satu batang kayu jati utuh, dan sejak awal sampai sekarang belum pernah diganti," kata salah satu takmir masjid, M Zakaria (66) sambil menunjuk daun pintu utama masjid.

Sebenarnya terdapat tiga pintu di masjid tua tersebut, namun saat Tribun berkunjung hanya satu pintu yang dibuka.

Sementara enam lubang jendela berukuran besar terpancang di sisi dan kanan masing-masing pintu. Desain pintu dan jendela yang tinggi dan lebar bisa mengingatkan pada bangunan peninggalan Belanda di Kota Lama, Semarang.

Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri
Didirikan tahun 1816, Masjid Besar Suruh di Kabupaten Semarang memang masih dihiasi keaslian bangunannya dan kokoh berdiri (tribunjateng/ponco wiyono)

Zakaria lalu menunjuk ke bagian atas mihrab, yang berisi tulisan berhuruf arab jawi dan aksara Jawa. Menurutnya, tulisan tersebut menggunakan tiga bahasa, yakni Arab, Melayu, dan Jawa.

"Sejak turun temurun tulisan itu dipertahankan karena menjadi penunjuk tentang keaslian tahun pembangunan tempat ini," ungkapnya.

Lelaki paruh baya itu menambahkan, bangunan awal masjid sama sekali tidak menggunakan paku.

Sampai saat ini, keempat tiang penyangga hingga langit-langit masjid masih asli dan direkatkan dengan pasak.

Halaman
12
Penulis: ponco wiyono
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help