Dijual Sejak 1965, Kopi Babah Kacamata Salatiga Dikenal Hingga Mancanegara, Ini Rahasianya

Ayah tiga anak itu mengatakan, tidak ada resep rahasia dalam mengolah bijih kopi menjadi bubuk siap saji

Dijual Sejak 1965, Kopi Babah Kacamata Salatiga Dikenal Hingga Mancanegara, Ini Rahasianya
Tribunjateng.com/Ponco Wiyono
Proses pengemasan 

Laporan wartawan Tribun Jateng, Ponco Wiyono

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Oleh-oleh khas Kota Salatiga tidak hanya nting-nting gepuk, kota yang dipimpin oleh Walikota Yuliyanto ini juga punya produk berupa kopi.

Mereknya Babah Kacamata, dan meski bijih kopinya berasal dari daerah lain, namun racikan kopi perusahaan ini begitu khas bahkan dikenal oleh kalangan ekspatriat.

Rabu (23/5/2018) siang, Tribun menemui Astono (48) pemilik kopi yang namanya juga dijadikan nama toko itu untuk wawancara.

Lelaki yang merupakan generasi kedua pengelola perusahaan keluarga itu mengaku, Babah Kacamata terus ia dagangkan bukan semata permintaan orang tua, melainkan sudah menjadi sumber penghidupan keluarga.

Kopi babah
Kopi babah (Tribunjateng.com/Ponco Wiyono)

"Dulu bubuk kopi racikan kami dijual tanpa merek, kemudian banyak kopi yang diaku sebagai produk kami di pasaran, hasilnya banyak pelanggan protes sehingga kami ajukan merek Babah Kacamata," jelas Astono.

Nama babah Kacamata sendiri diambil dari sebutan masyarakat pelanggan kopi Astono, terhadap almarhum ayahnya Warsono atau Tan Tjun Gwan yang memang menggunakan kacamata. Warsono merupakan generasi pertama yang menggagas usaha kopi, dan memulai bisnisnya secara kecil-kecilan pada tahun 1965.

"Di zaman bapak saya, ia menjual kopi untuk masyarakat sekitar sini saja, saat saya diminta melanjutkan, pemasaran saya kembangkan lagi dengan merangkul toko-toko di seputar Salatiga," kata Astono yang mengeklaim sebagian kedai kopi dan kafe di Salatiga menyajikan kopinya.

Ayah tiga anak itu mengatakan, tidak ada resep rahasia dalam mengolah bijih kopi menjadi bubuk siap saji.

Proses roasting hingga menghaluskan bijih dilakukan biasa, namun tetap menggunakan perhitungan tingkat kematangan. Yang istimewa, tungku dan penggiling bijih kopi yang ia gunakan masih sama dengan yang dipakai ayahnya dulu.

"Tidak hanya itu, kami juga menggunakan bijih kopi yang utuh. Kopi yang kami dapatkan dari daerah Pingit di dekat Magelang itu jenisnya robusta dan sudah lama kami berlangganan dari petani sana," ungkap Astono lagi.

Dikatakan Astono, selain menjual kopi dalam bentuk bubuk berbagai kemasan, ia juga melayani penjualan bijih kopi. Biasanya, kalangan eskpatriat yabg tinggal di Salatiga dan hendak pulang kampung memintanya menyediakan bijih kopi yang akan diolah sendiri sesampainya di negeri asal nanti.

"Pelanggan saya pun ada regenerasi, guru-guru sekolah internasional yang baru biasanya dapat rekomendasi dari guru yang lama. Sementara warga sini yang tinggal di luar negeri juga sering mampir pas pulang, ada yang di Australia, Taiwan, Cina, Jerman, dan Amerika," tuturnya.

Saat ini, kopi Babah Kacamata dijual dalam berbagai ukuran, mulai 0,5 ons, 100 gram, 250 gram, 500 gram hingga satu kilogram. Toko Babah kacamata sendiri berada di Jl Kalinyamat Nomor 16. (*)

Penulis: ponco wiyono
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help