Tadarus

Ramadan dan Kerukunan Umat

Ramadan dan Kerukunan Umat. Tadarus oleh Dr. KH. Cholil Nafis, Lc, MA/Ketua Komisi Dakwah MUI

Ramadan dan Kerukunan Umat
TRIBUNNEWS.COM/DOK
Tadarus oleh Dr. KH. Cholil Nafis, Lc, MA/Ketua Komisi Dakwah MUI 

Tadarus oleh Dr. KH. Cholil Nafis, Lc, MA/Ketua Komisi Dakwah MUI

TRIBUNJATENG.COM - Tema soal kerukunan mungkin sudah banyak diulas di berbagai media, mengingat negeri kita adalah negeri yang majemuk. Perbedaan-perbedaan tidak seharusnya menjadi pemicu konflik, karena di situlah Allah SWT memberi anugerah kepada bangsa ini agar satu sama lain saling mengenal.

Dalam QS: Al-Hujurat: 13, yang artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".(Qs. al-Hujurat: 13)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa keragaman sesungguhnya menjadi kekuatan. Dengan perbedaan-perbedaan bisa saling mengisi kekurangan. Namun kuncinya harus saling kenal terlebih dahulu lalu melakukan kerja sama.

Bulan suci Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Ini merupakan momentum yang sangat baik, karena kita dapat menempa diri kita selama sebulan penuh, siang dan malam, dengan berbagai amal shaleh yang dijanjikan pahala berlipat, seperti puasa, shalat, sedekah, silaturahim, tafakkur, tahannuts, dan lain-lain. Kesempatan mulia setahun sekali ini memang sengaja Allah berikan agar setiap umat Islam memiliki momen agung, baik dalam bentuk internalisasi nilai-nilai ketuhanan maupun nilai-nilai kemanusiaan secara lebih utuh.

Datangnya bulan Ramadan tidak bisa dipahami secara parsial dan memandangnya dari kemasan permukaannya saja. Meski pada bulan ini lebih banyak menekankan pada penempaan spiritual, akan tetapi sasarannya mencakup seluruh kepentingan hidup umat Islam, bahkan kepada umat-umat yang lain.

Pengejawantahan nilai-nilai Ramadan harus lebih luas, bukan memfasilitasi kesalehan individual, akan tetapi juga kesalehan sosial. Saat berpuasa dimana kerahasiaan hanya diketahui oleh yang melaksanakan (shaim) dan Tuhan, namun efek sosialnya harus benar-benar dirasakan oleh orang lain (lingkungannya). Jika Ramadan hanya berefek pada individu berarti masih berfungsi sangat minimalis, sementara target utamanya adalah manfaat maksimalis, manfaat pada ruang kemanusiaan dan kealaman.

Manfaat maksimalis Ramadan ini harus benar-benar menjadi titik tekan agar agama mampu "mencreate" individu dan sosial secara lebih komprehensif. Pesan agung dari puncak Ramadan adalah cairnya kesalehan sosial dalam bentuk empati kepada sesama yang lemah (dhuafa).

Dhu'afa secara lebih luas dapat dimaknai sebagai kalangan lemah secara sosial yang membutuhkan perlindungan, yang bisa juga masuk kaum minoritas yang sering mendapatkan diskriminasi atau tekanan. Karena itu, dengan datangnya Ramadan ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap dan perilaku empatik kepada semua elemen bangsa agar tidak terjadi saling benci dan kekerasan yang tidak diajarkan oleh semua agama.

Kita ketahui bersama bahwa kehidupan (kerukunan) umat beragama kita saat ini sedang mendapatkan cobaan lagi, dimana telah terjadi pengeboman di rumah-rumah ibadah yang sangat mengkhawatirkan di Jawa Timur. Sebelumnya, kita juga saksikan ada upaya-upaya serangan kepada para tokoh agama yang sempat menimbulkan reaksi-reaksi yang kurang proporsional.

Ini menandakan bahwa ancaman tindak terorisme dalam segala bentuknya masih terjadi. Karena, suka tidak suka, masih ada sebagian kelompok umat beragama yang "membajak" agamanya untuk menjustifikasi sikap dan tindakannya menyakiti orang lain.

Oleh karena itu, bulan suci Ramadan bisa dijadikan momentum bagi kita untuk menggali makna kerukunan sejati, baik pada internal maupun eksternal umat beragama. Ibadah puasa mengandung makna yang luas agar kita memiliki "sense" dan kendali saat perbedaan-perbedaan akan memunculkan konflik. Filosofi "al-imsak" atau menahan dari semua hal yang merusak dapat dijadikan ladang bagi pendidikan jiwa, tak terkecuali dalam membangun relasi dengan orang lain.
Ramadan memiliki watak khas yang mampu mendorong kita untuk menundukkan kepala, menumbuhkan empati dan respek bagi sesama. Semoga Ramadan tahun ini mampu menguatkan kita sebagai bangsa yang bisa mengelola segala perbedaan. Wallahu a'lam. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help