Tadarus

Allah Rindu

Allah Rindu. Tadarus ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

Allah Rindu
youtube
Prof Dr Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah 

Tadarus ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah

TRIBUNJATENG.COM - Manusia terhubung dan menghubungkan diri dengan Tuhan melalui doa. Dalam doa seorang hamba mengingat, menyeru, dan menyampaikan seluruh suka serta duka dalam menjalani hidup. Bagi orang yang beriman, umur, dan hidup adalah amanah, juga anugerah, sehingga sangat logis jika Tuhan menjadi sandaran terakhir tempat mengadu. Dalam Islam, satu di antara forum untuk mengadu adalah salat wajib. Kalau dirasa kurang puas, melalui salat sunnat.

Banyak sekali forum salat sunnat yang diajarkan Rasulullah. Dalam berbagai hadits disebutkan, Allah senantiasa menunggu karena rindu hamba-Nya untuk mau datang beraudiensi dan bersujud pada-Nya. Pintu-Nya senantiasa terbuka mengingat Allah adalah maha pendengar, maha penerima taubat, dan sumber semua kedamaian hidup sebagaimana tersurat dan tersirat dalam asmaul husna yang berjumlah 99.

Ketika seorang mukmin hatinya telah dipenuhi rasa cinta dan rindu pada Allah yang maha kasih dan maha pemurah, panggilan salat merupakan panggilan yang indah dan menggairahkan, layaknya anak muda yang jatuh cinta selalu ingin berjumpa kekasihnya. Ibarat seorang ibu yang merindukan bertemu anaknya yang tengah pergi berlibur.

Dalam konteks inilah menjadi sangat mudah dipahami mengapa Rasulullah menganjurkan agar seorang muslim hendaknya salat di awal waktu. Jangan ditunda-tunda. Bergegaslah memenuhi panggilan Allah. Betapa sejuk dan ceria waktu menjalani salat jika hatinya berbunga-bunga ketika beraudiensi pada Allah. Semua kegiatan ditinggalkan karena tak ada yang lebih menarik ketimbang menghadap Allah.

Begitu nikmat berdialog sambil tegak berdiri, sambil membungkuk dan kemudian bersujud. Dalam bersujud kita berserah diri secara total. Tak sanggup bibir menyampaikan semua perasaan dan pikiran sehingga Rasulullah mengajarinya dengan ucapan yang penuh pujian dan mohon ampunan. Tetapi sesungguhnya yang lebih dari itu adalah pada momen adegan sujud. Kepala yang biasanya dalam posisi tegak, kadang sombong dan tebar pesona menunggu pujian kanan-kiri, dalam sujud kita mencium tanah tanda kepasrahan dan pengakuan kekerdilan diri dan pengagungan Tuhan. Posisi pantat bahkan lebih tinggi dari posisi kepala.

Momentum sujud merupakan momentum puncak dalam salat sehingga banyak orang berlama-lama, enggan buru-buru mengangkat kepala sebelum puas menumpahkan pikiran, perasaan, pujian, dan permohonan ampun pada Tuhan. Tetapi ini hendaknya dilakukan ketika salat sendirian saja. Sebab, kalau dalam salat berjamaah bisa mengganggu suasana batin teman yang mungkin ada agenda lain. Coba saja hayati dan jalani, ketika salat tumbuhkan dan ikuti parasaan rindu serta cinta pada Allah, Anda akan betah berlama-lama dan akan merasakan aliran energi cinta dan damai dari Allah mengalir ke diri Anda.

Kalau itu menjadi habit dan kualitas salat Anda, ketika mengakhiri salat dengan mengucap dan menebar salam, menengok ke kanan dan ke kiri, akan berkelanjutan dan dirasakan siapapun yang dekat dengan Anda. Mereka yang senang salat adalah juga mereka yang senang menebar rasa damai bagi lingkungannya. Rasa intim dengan Allah akan semakin intens dirasakan ketika kita berada dalam bulan Ramadan.

Kedekatannya tidak saja dirasakan sewaktu salat, tetapi juga ketika sepanjang hari menjalani puasa. Kita sungguh merasakan kedekatan dan kehadiran Tuhan sehingga larangan tidak makan dan minum serta perbuatan keji, dengan ringan kita taati. Setiap saat kita merasa dalam tatapan dan limpahan kasih-Nya. Dan memang begitulah firman Allah. Di manapun dan kapanpun berada, Allah sungguh dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Urat nadi adalah urat aliran darah penyangga kehidupan yang bergerak dan digerakkan oleh jantung. Artinya, Tuhan paling dekat dan menguasai kehidupan kita, selalu peduli pada hidup kita.

Selama Ramadan kita berintim diri dengan Allah baik sewaktu menjalani puasa, salat tarawih maupun tadarrus Alquran. Subhanallah, sungguh indah dan menggairahkan beribadah di bulan Ramadan. Tidak hanya merasa akrab dengan Allah, sewaktu bulan Ramadan terjadi proses konsolidasi dan intensifikasi ikatan batin dengan sesama keluarga. Aura spiritual memenuhi kehidupan rumah tangga. Lapar dan haus dirasakan semata karena memenuhi pesan Ilahi yang buah kebaikannya akan kembali pada diri kita sendiri. Lalu, makan buka dan sahur bersama. Salat tarawih bersama. Terima kasih Tuhan, aku dipertemukan dengan bulan yang penuh berkah ini. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved