Tadarus

Pak Ustad, Katanya Ramadan Dilarang Pacaran, Maksudnya Bagaimana?

ASSALAMU alaikum. Katanya Ramadhan tidak boleh pacaran. Pacaran yang dimaksud seperti apa? Duduk bareng, ketemuan, atau

Pak Ustad, Katanya Ramadan Dilarang Pacaran, Maksudnya Bagaimana?
net
ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tanya jawab ini dimuat di koran Tribun Jateng edisi Rabu 30 Mei 2018 rubrik Happy Ramadan.

ASSALAMU alaikum. Katanya Ramadhan tidak boleh pacaran. Pacaran yang dimaksud seperti apa? Duduk bareng, ketemuan, atau yang kayak bagaimana?

Jawaban :
Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.
Penanya dan Pembaca yang budiman,
Pacaran saat ini seakan-akan telah menjadi tradisi di kalangan generasi muda Islam kita. Para muda-mudi berlainan jenis menjalin hubungan khusus yang katanya untuk ikhtiyar mencari pasangan hidup.

Namun tidak jarang hubungan ini justru mengarah pada hal-hal yang negatif, seperti perzinaan, menyepi (khalwat), dan janji-janji bohong yang dilarang oleh agama Islam. Pacaran dalam pengertian ini tentu saja termasuk perbuatan dosa yang dilarang agama yang kita perlu tinggalkan termasuk saat puasa ini.

Hal demikian, sebagaimana Firman Allah SWT: “(Dan) jangan kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (al-Isra’: 32).

Begitu juga dalam hadis Nabi Muhammad dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa banyak sekali kategori zina yang tentu saja berimplikasi kepada dosa, baik kecil maupun besar, seperti mata dengan melihat bukan muhrim, telinga dengan mendengar yang haram, mulut dengan berbicara bohong, tangan dengan meraba (menyentuh) yang diharamkan, kaki dengan melangkah ke maksiat, dan hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan yang haram (HR Muslim nomor 6925).

Sementara itu, dalam ajaran agama Islam, ada cara yang lebih aman dan sesuai ajaran agama dalam mencari pasangan hidup, yaitu berkenalan (ta’aruf), melamar (khithbah), memohon petunjuk/pilihan (istikharah), dan doa.

Cara-cara ini bisa digunakan untuk lebih menyelamatkan pandangan dan kemaluan dari perbuatan zina-zina tersebut di atas.

Kita tahu, bahwa Ramadhan itu bulan yang mulia. Karena kemuliaannya itulah, maka Allah SWT melipatgandakan pahala dari amal perbuatan baik kita, baik yang wajib maupun sunnah. Namun demikian, sebagian ulama kita juga mengingatkan, bahwa tempat atau waktu di mana pahala ibadah dilipatgandakan, maka kemungkinan melakukan dosa pada waktu dan tempat tersebut juga dilipatgandakan. Oleh karena itu adalah sangat bijak jika dalam bulan puasa ini kita selalu berusaha mengisi hari-hari dengan amal kebaikan, bukan sebaliknya.

Menurut Syekh Abu Thalib al Makky dalam Kitab Quutil Qulub menyatakan, kalau direnungkan secara mendalam, melakukan ibadah puasa dengan sekedar meninggalkan makan, minum, dan berbagai hal yang membatalkan puasa secara dhahir bukan tujuan asasi dari puasa. Karena dalam kenyataannya Allah mengancam hilangnya pahala bagi yang tidak berhasil meninggalkan larangan-larangan batin.

“Seorang hamba yang menjaga had-had Allah Azza Wajalla, sekalipun dia telah berbuka dengan makan minum dan bersetubuh, (sesungguhnya) dalam pahala dan keutamaan menurut Allah dia tetaplah seorang yang berpuasa. Sebaliknya seorang hamba yang dhahirnya berpuasa dari makan minum dan bersetubuh, namun tetap menjalankan dosa-dosa, maka menurut Allah bukanlah orang yang berpuasa." (Quutil Qulub, 1/135).

Oleh karena itu, marilah kita jaga kemuliaan Ramadhan dan jaga ibadah puasa kita dengan menghindari perbuatan-perbuatan dosa, termasuk pacaran.

Demikian jawaban dari kami semoga bermanfaat. Terima kasih. Wallahu a’lam bi al-shawab.

DR KH Abu Choir
Pengasuh PP Darur Ridhwan Al-Fadholi Kabupaten Pati Jawa Tengah

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved