HALAQAH: Mimpi Basah saat Berpuasa

Bagaimana bila kita sudah sahur dan salat subuh, lalu lanjut tidur lagi. Saat bangun dari tidur ini baru diketahui mengeluarkan sperma

HALAQAH: Mimpi Basah saat Berpuasa
Shutterstock/kompas.com
Ilustrasi-Tidur mimpi basah 

Oleh  Dr KH Abu Choir, MA
Sekretaris PW RMI NU Jateng; Pengasuh Pondok Pesantren Darur Ridhwan Al Fadholi Pati

Pertanyaan:
Salam, Pak Kiai. Mau tanya, bagaimana bila kita sudah sahur dan salat subuh, lalu lanjut tidur lagi. Saat bangun dari tidur ini baru diketahui mengeluarkan sperma secara tidak sengaja. Bagaimana dengan puasanya? Terima kasih.

Jawab:
Waalaikum salam Wararmatullahi Wabarakatuh.
Pembaca yang budiman, para ulama sepakat, aktivitas orang yang sedang tidur tidak dapat dikenai hukum. Hal ini berdasarkan Firman Allah SWT pada Surat Al Baqarah ayat 286: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" dan juga hadis Rasulullah Muhammad Saw yang diriwayatkan dari Umul Mukminin Aisyah RA, bahwa Pena amal diangkat (tidak mencatat) pada tiga kelompok orang, yaitu: orang yang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai baligh, dan dari orang gila sehingga berakal atau sembuh (HR. Ahmad dan disahihkan oleh al Hakim).

Oleh karena itu, keluar air mani/sperma saat tidur, sekalipun di siang hari, tidak membatalkan puasa seseorang. Hal demikian, berbeda dari mengeluarkan sperma yang disengaja, semisal onani di siang hari di bulan Ramadan. Tindakan tersebut menjadikan puasa seseorang batal (al Fiqh al Manhaji ala Mazhab al Imam al Syafi’i, Jilid 2: hal. 86).

Karena menyengaja mengeluarkan sperma dapat bermakna: 1) mencari kenikmatan dengan keluarnya sperma yang semakna dengan Jima’ yang juga membatalkan puasa (hanya dalam Jima’ada kafarat, dalam menyengaja keluar sperma dengan onani tidak ada kafarat); dan 2) menyengaja keluarnya sperma di siang hari selama puasa bertentangan dengan makna puasa itu sendiri karena justru tidak menahan nafsu/syahwatnya.

Apalagi, penyebutan syahwat berbarengan dengan kata makan dan minum dapat diindikasikan bahwa tindakan tersebut membatalkan puasa sebagaimana makan dan minum. Hal demikian sebagaimana dinyatakan dalam hadis Riwayat Bukhari/1954; "Mereka meninggalkan makan, minum, dan syahwat karena untuk (meraih ridho) Ku".
Wallahu A’lam Bi Al-Shawab.

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved