Pemkab Batang Pelopori Deteksi Dini Paham Radikal dan Terorisme, Kenali juga Ciri-cirinya

Aksi terorisme yang sudah marak terjadi di Indonesia beberapa waktu belakangan ini sudah sangat meresahkan.

Pemkab Batang Pelopori Deteksi Dini Paham Radikal dan Terorisme, Kenali juga Ciri-cirinya
TRIBUN JATENG/DINA INDRIANI
Bupati Batang, Wihaji saat Dialog Pemantapan Langkah Nyata Penanggulangan Radikalisme atau Terorisme yang berlangsung di Pendopo Kantor Bupati setempat, Kamis ( 31/5/18) sore. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dina Indriani.

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Aksi terorisme yang sudah marak terjadi di Indonesia beberapa waktu belakangan ini sudah sangat meresahkan.

Para teroris yang terlibat aksi tersebut tak lain dilandasi atas pemahaman radikalisme, untuk itu perlu adanya upaya pencegahan di lingkungan sekitar agar pemahaman yang salah tersebut tidak semakin tersebar.

Bupati Batang, Wihaji berharap agar wilayahnya tetap kondusif dan tidak ada kejadian aksi terorisme.

"Harapan saya Batang dapat kondusif dan peristiwa aksi terorisme tidak terjadi di wilayah Kabupaten Batang walaupun beberapa pelaku aksi teror berasal dari Batang," tutur Wihaji saat Dialog Pemantapan Langkah Nyata Penanggulangan Radikalisme atau Terorisme yang berlangsung di Pendopo Kantor Bupati setempa, Kamis ( 31/5/18) sore.

Ia juga mengatakan terorisme yang akhir-akhir terjadi merupakan tindakan luar biasa, oleh karena itu harus ada langkah bersama untuk mendeteksi dini di lingkungan sekitar.

Meski begitu, Ia tetap menghimbau untuk tidak melakukan tindakan main hakim sendiri dan harus dilaporkan ke pihak kepolisian maupun TNI terdekat apabila ada sesuatu yang mencurigakan.

Direktur Identifikasi dan Sosialisasi Densus 88 A/T Mabes Polri, AKBP Jhoni Juwana mengatakan aksi teror di Indonesia mulai terjadi pada tahun 1980 hingga sekarang, sebagai targetnya adalah orang non muslim dan orang asing, namun pada 2011 target beralih sasaran pada anggota polisi.

"Mulai 2011 target aksi terorisme beralih sasaran kepada anggota Polisi, hal ini dinilai apabila ingin merubah ideologi negara sasaran pertama yang harus dilumpuhkan adalah anggota Polisi, dan tidak menutup kemungkinan kedepan anggota TNI juga menjadi sasaran aksi terorisme," tutur AKBP Jhoni Juwana.

Ia mengatakan bahwa ciri-ciri orang yang terpapar paham radikal diantaranya mendadak anti sosial atau tidak mau membaur, menunjukkan sikap perbedaan dari ulama moderat.

Lebih lanjut dikatakannya, karakteristik kelompok Islam radikal perlu diwaspadai karena berada di lingkungan sekitar.

Serta saat ini pasukan ISIS telah terdesak oleh kaum milisi di Suriah sehingga beberapa kasus yang terjadi di Indonesia merupakan seruan untuk melakukan amaliyah atau aksi teror terlebih menjelang bulan Ramadhan.

"Upaya yang dilakukan aparat keamanan dalam menghadapi aksi radikalisme dan terorisme yaitu pencegahan, Deradikalisasi, upaya hukum, propiling atau Pemetaan potensi ancaman, meningkatkan kepekaan lingkungan masyarakat, waspadai orang atau kelompok yang berpikiran radikal, memaksimalkan Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB)- mengingatkan dan mencegah jika menemukan adanya potensi ancaman aksi radikal/teror," jelasnya.

Kegiatan Dialog Pemantapan Langkah Nyata Penanggulangan Radikalisme/Terorisme tersebut disertai
pembacaan Ikrar Penolakan paham Radikalisme dan Terorisme Kabupaten Batang oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Batang, M. Subkhi.

Serta dihadiri oleh Kapolres Batang AKBP Edi Suranta Sinulingga Kasdim 0736 Batang Mayor Inf. Raji, Kapolsek bersama Bhabinkamtimas, Danramil bersam Bhabinsa dan Kepala Desa se Kabupaten Batang yang dilanjutkan berbuka bersama.(*)

Penulis: dina indriani
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved