BMKG Imbau Petani Sayuran di Dieng Antisipasi Embun Upas

Kepala Stasiun Klimatologi Semarang, Tuban Wiyoso, melalui rilis, mengatakan fenomena tersebut berbahaya bagi tanaman sayuran dan kentang

BMKG Imbau Petani Sayuran di Dieng Antisipasi Embun Upas
tribunjateng/khoirul muzaki/ist
Musim kemarau sedang memasuki puncaknya. Di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara Jateng suhu di bawah 0 derajat Celsius, ditandai dengan munculnya embun beku, atau biasa disebut Embun Upas, yaitu embun beracun. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Semarang mengimbau para petani sayuran wilayah Dieng mengantisipasi fenomena embun beku atau dikenal Embun Upas.

Kepala Stasiun Klimatologi Semarang, Tuban Wiyoso, melalui rilis, mengatakan fenomena tersebut berbahaya bagi tanaman sayuran dan kentang.

"Sehingga perlu penanganan khusus berupa penyiraman tanaman di pagi hari sebagai upaya antisipasi," tulis Tuban.

Embun Upas, lanjut dia, biasanya mulai muncul saat Bediding atau dalam istilah jawa disebut perubahan suhu yang mencolok khususnya di awal musim kemarau.

"Suhu udara menjadi sangat dingin menjelang malam hingga pagi hari, sementara di siang hari suhu melonjak hingga panas menyengat," ungkapnya

Tuban mengimbuhkan, suhu udara pada musim bediding tidak sedingin daerah subtropis seperti Eropa. Tetapi sudah dapat membuat badan menggigil kedinginan, terutama di daerah dataran tinggi seperti dataran tinggi Dieng.

Hasil pantauan BMKG, pengamatan suhu dan kelembaban selama sepuluh hari terakhir di beberapa UPT BMKG di Jawa Tengah menunjukkan suhu minimum dan kelembaban udara yang rendah.

Dia berujar, kondisi suhu rendah diprakirakan semakin dingin pada puncak musim kemarau di bulan Agustus.

Tuban mengutarakan, secara umum Jawa Tengah sudah masuk musim kemarau. Angin timuran yang membawa yang membawa udara kering dan dingin sudah dominan.

Dia mengimbuhkan peluang terjadi hujan sangat kecil, karena tidak begitu banyak tutupan awan yang berpotensi hujan dan menahan energi matahari.

"Suhu udara cukup tinggi dengan kelembaban udara yang rendah terjadi pada siang hari dan suhu turun drastis pada malam hari, karena energi matahari yang terserap bumi terlepas bebas ke atmosfer bumi tanpa ada yang menahannya," jelasnya. (*)

Penulis: Daniel Ari Purnomo
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help