Airport Corner

Pakar Transportasi Nilai Taksi Tak Berargometer Tidak Pantas Beroperasi di Bandara

Apalagi,taksi berargometer yang dari luar Bandara tidak bisa ikut melayani penumpang dari dalam Bandara.

Pakar Transportasi Nilai Taksi Tak Berargometer Tidak Pantas Beroperasi di Bandara
TRIBUNJATENG/DOK
PULUHAN TAKSI terparkir di pooltaksi bandara Ahmad Yani Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Muncul komplain terkait taksi Bandara Ahmad Yani beberapa hari lalu, juga mendapat sorotan dari Pakar Transportasi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranoto Semarang, Djoko Setijowarno.

Keberadaan taksi Bandara yang menerapkan tarif khusus, tidak memakai argometer, dinilai menyalahi aturan. Apalagi,taksi berargometer yang dari luar Bandara tidak bisa ikut melayani penumpang dari dalam Bandara.

Menurut Djoko, seharusnya, pengelola Bandara juga menyediakan juga layanan taksi yang berargometer.

"Sebenarnya jenis taksi seperti ini tidak boleh lagi beroperasi di terminal penumpang sekelas Bandara Ahmad Yani. Pihak manajemen atau pengelola Bandara tidak seharusnya membiarkan praktik seperti ini karena sangat merugikan konsumen," kata Djoko, Senin (11/6).

Selain tarifnya yang mahal, pengunjung Bandara tidak mempunyai pilihan transportasi lainnya. Sehingga mau tidak mau pengunjung dipaksa harus menggunakan transportasi yang ada.

Kondisi tersebut, katanya, jelas melanggar sejumlah aturan. Yakni UU Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, UU Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dan UU tentang Persaingan Usaha dan Anti Monopoli.

Untuk itu, pengusaha taksi yang lama harus memasang argometer seperti taksi argometer yang sudah beroperasi selama ini di Semarang."Juga, semua usaha taksi argometer di Kota Semarang harus diberi kesempatan yang sama untuk bisa melayani penumpang. Tidak hanya mengantarkan, tetapi juga menjemput penumpang dari Bandara," jelasnya.

Layanan Prima

Di sisi lain, Djoko menyebutkan, dari hasil kajian Analisis Dampak Lalu Lintas tahun 2017, juga merekomendasikan pembangunan fly over sepanjang lebih kurang 1 kilometer.

Fly over diharapkan sudah mulai terbangun tahun 2019. Dengan adanya fly over ini, lalu lintas menuju Bandara dari Jalan Madukoro tidak terhalang aktivitas kawasan PRPP dan Sekolah Krista Mitra.

Halaman
12
Penulis: m zaenal arifin
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help