Ramadhan 2018

TADARUS: Beyond Ritualisme

Berpuasa bagi kaum muslim pada umumnya lebih dilihat dari perspektif fikih ibadah. Yakni, berpuasa merupakan ibadah

TADARUS: Beyond Ritualisme
Al Fath
Ucapan Ramadhan 2018 puasa 

Oleh Dr Mutohharun Jinan

Direktur Pondok Shabran UMS Surakarta

TRIBUNJATENG.COM - Berpuasa bagi kaum muslim pada umumnya lebih dilihat dari perspektif fikih ibadah. Yakni, berpuasa merupakan ibadah yang wajib ditunaikan dan meninggalkannya tanpa alasan yang dibenarkan syariat berarti berdosa.

Tentu saja pandangan terhadap puasa dalam pendekatan fikih ibadah demikian itu tidak salah. Karena memang begitulah teks-teks suci Alquran dan Hadis menginformasikan tentang kemuliaan puasa Ramadan.

Bahwa puasa sebagai ibadah yang berpahala banyak, membuka peluang pelakunya dibersihkan dosa-dosanya, dan memperoleh ampunan-Nya.

Lebih dari itu, puasa Ramadan sejatinya juga merupakan medium yang diciptakan Tuhan, untuk mendidik manusia agar melakukan otokritik spiritual, keluar dari rutinitas, dan lepas dari bingkai struktural yang membelenggu.

Secara individual, puasa Ramadan mengajarkan agar manusia melakukan transformasi diri dengan memeriksa dan menilai diri sendiri apakah iman dan keberagamaannya sudah menembus batas-batas ritual menuju pengalaman obyektif.

Sedangkan secara sosial puasa dapat juga diletakkan sebagai alat refleksi untuk dikais maknanya dalam perspektif moral dan keadilan sosial sesuai konteks ibadah itu dilakukan.

Dalam suasana sosio-politik menjelang pemilihan pemimpin saat ini, tepat sekali untuk melakukan obyektifikasi nilai-nilai dasar puasa Ramadan, antar lain sebagai kriteria memilih pemimpin yang pantas menakhodai negeri ini. Nilai-nilai dasar puasa seperti empati, keberpihakan pada kaum lemah, kejujuran, dan kemampuan pengendalian diri cukuplah untuk mengukur sekaligus menentukan pilihan pemimpin.

Untuk itu, menilai kemampuan dalam pengendalian diri para pemimpin, dapat dilihat dari apakah mereka telah menunjukkan komitmen moral sehingga tidak terlibat dalam korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan tindak kejahatan lainnya. Berbagai bentuk tindak kejahatan ini merupakan representasi dari sifat kerakusan dan kebalikan dari sifat pengendalian diri.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved