Ngopi Pagi

TAJUK: Mudik Ceria

Setelah sebulan penuh, kaum muslim menjalankan ibadah puasa, tiba saatnya Hari Kemenangan. Di segenap penjuru dunia

TAJUK: Mudik Ceria
tribunjateng/bram
Moh Anhar wartawan Tribun Jateng ok 

Oleh Moh Anhar

Wartawan Tribun Jateng

TRIBUNJATENG.COM - Hari Raya Idulfitri di depan mata. Tanggal 1-2 Syawal 1439 jatuh pada Jumat-Sabtu (15-16/6). Setelah sebulan penuh, kaum muslim menjalankan ibadah puasa, tiba saatnya Hari Kemenangan. Di segenap penjuru dunia, takbir berkumandang.

Selain kewajiban menunaikan zakat fitrah di penghujung Ramadan, beragam tradisi menyambut Lebaran mulai dijalankan. Berbelanja baju baru, menyiapkan hidangan ketupat dan opor ayam, dan juga mudik ke kampung halaman. Semua serba istimewa.

Sejatinya, mudik ke kampung halaman adalah menyambung silaturahim keluarga, terlebih lagi sungkem orangtua. Setelah sekian waktu merantau di kota nun jauh dari kampung halaman, makna mudik ini begitu bermakna mendalam bagi orangtua dan anak.

Karenanya, menempuh perjalanan panjang hingga puluhan, bahkan ratusan kilometer, direlakan demi kebersamaan ini. Kemacetan hingga suasana panas menjadi tantangan. Apalagi bagi pemudik bermotor.
Di media sosial, bertebaran kisah perjalanan mudik yang melelahkan menjadi cerita yang menghibur.

Entah siapa yang mengawali. Fenomena pemudik motor dengan menempel kertas yang bertuliskan macam-macam "curahan hati" menjadi hiburan bagi yang membacanya. Kalimat seperti, "Duwe Duit, Ora Duwe Duit Sing Penting Mudik", "Maaf Mak Gagal Bawa Mantu", atau juga "Sakadohe-adohe Lungo, Tetep Eling Wong Tuwo, Wong Tuwo Ora Butuh Bondo, Tapi Butuh Anake Teko".

Tulisan yang mengundang senyum sekaligus bikin trenyuh. Sisi-sisi manusiawi tertampilkan secara bersahaja. Bahwa perjalanan mudik, bukan sekadar berita kecelakaan, jalan berlubang, atau kemacetan panjang.

Mudik memang harus ceria. Bukan hanya ketika sampai di alamat tujuan, melainkan juga proses perjalanannya.
Untuk mewujudkan mudik ceria ini, pihak-pihak berwenang dari pemerintah maupun swasta sebenarnya sudah berupaya.

Misalnya saja, pendirian posko-posko istirahat di jalur padat yang dilintasi pemudik. Beragam fasilitas disediakan, mulai tim kesehatan, fasilitas bermain anak, hingga ada pijat juga. Dan, yang fenomenal belakangan ini adalah infrastruktur jalan tol, yang ruasnya terus bertambah.

Di Jawa Tengah, ruas tol baru yang sudah bisa dipergunakan untuk jalur mudik 2018 adalah Tol Pemalang-Batang sepanjang 39 kilometer, Tol Batang-Semarang sepanjang 75 kilometer, dan ruas Salatiga-Solo (32 kilometer) yang menjadi bagian dari Tol Semarang-Solo. Keberadaan tol ini diharapkan bisa makin memudahkan dan melancarkan arus mudik.

Jalur Pantura yang selama ini identik dengan kemacetan panjang di sejumlah titik, setidaknya sudah bisa diurai adanya jalan tol ini. Imbauan untuk mengutamakan keselamatan di jalan selalu dikedepankan. Bus-bus harus diperiksa standar kelayakan operasional sebelum jalan. Begitu pula moda transportasi kereta api yang kian nyaman bagi para penumpangnya.

Ayo mudik, kumpul keluarga, silaturahim terjaga, semoga selamat dalam perjalanan. (*)

Penulis: moh anhar
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help