Ternyata, Ada Harapan dan Doa Dibalik Nama Pulau Tiban Kendal

Warga setempat pun menamai gundukan pasir tersebut dengan Pulau Tiban.

Ternyata, Ada Harapan dan Doa Dibalik Nama Pulau Tiban Kendal
TRIBUN JATENG/DINA INDRIANI
Pulau Tiban Kendal 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dina Indriani.

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Berawal dari ancaman abrasi pada kawasan pinggir pantai Desa Kartika Jaya, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, kemudian muncul gundukan pasir yang membentuk seperti sebuah pulau sekitar enam tahun lalu atau pada tahun 2012.

Warga setempat pun menamai gundukan pasir tersebut dengan Pulau Tiban.

Hingga pada tahun 2014, melihat potensi alam yang ada di Pulau Tiban kemudian dijadikan sebagai destinasi wisata baru yang dikelola oleh warga setempat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Dibalik nama Pulau Tiban ternyata ada secercah harapan dan doa dari warga setempat.

"Awalnya di Desa kami yang letaknya di pinggir pantai mengalami ancaman abrasi, kemudian muncul gundukan pasir seperti pulau. Kami sempat bingung menamai apa akhirnya kami beri nama Tiban yang kami artikan itu sebuah berkah yang jatuh," tutur Humas Pokdarwis yang juga warga Desa Kartika Jaya, Joko Basuki Kepada Tribunjateng.com, Rabu (20/6/2018).

Ia mengatakan bahwa adanya gundukan pasir tersebut bisa menjadi berkah yang bisa menyelamatkan desa dari ancaman gelombang yang menyebabkan abrasi dengan memberdayakan potensi pulau tersebut sebagai sabuk pantai.

Selain itu, dengan dijadikan sebagai destinasi wisata harapannya bisa membantu perekonomian warga sekitar, pasalnya dengan adanya Pulau Tiban ini bisa menambah lapangan kerja untuk warga.

"Alhamdulillah dengan dijadikan destinasi wisata bisa menambah lapangan kerja. Semua yang bekerja di sini adalah warga Desa Kartika Jaya, dari petugas loket, operator, keamanan, penjaga parkir, dan warung makan. Harapannya Inshaallah bisa membantu perekonomian warga. Dari awal kami gotong royong membangun beberapa fasilitas dari iuran mingguan, hingga sekarang dari hasil pengunjung," terangnya.

Meski dijadikan sebagai wisata, namun Joko mengatakan warga setempat tetap menjunjung tinggi selalu peduli lingkungan dengan menanam cemara laut yang bisa memperkuat adanya daratan pulau, serta untuk memperkuat keberadaan daratan warga menanami tepi pulau tiban dengan tanaman bakau.

Dikatakannya juga, Pulau Tiban bisa memberikan wisata yang tidak hanya sekedar melihat panorama alam tetapi juga wisata alam berbasis konservasi yang bisa menjadi bahan edukasi untuk pengunjung.

"Di sini kita bisa lihat bagaimana perilaku manusia bisa memberikan dampak untuk kerusakan alam, untuk itu bisa sama-sama sadar bahwa kerusakan ini harus dibenahi, dan dengan kerusakan yang sudah terjadi bisa dimanfaatkan untuk bahan pembelajaran serta bagaimana kelanjutannya untuk menjaga lingkungan," ujarnya.

Joko juga berharap Pemerintah bisa selalu mendukung destinasi wisata Pulau Tiban ini.

"Ya kami berharap Pemerintah bisa melihat potensi dan selalu mendukung wisata ini, tidak hanya dalam bentuk motivasi tapi juga pengakuan sebagai tempat wisata agar warga setempat tetap optimis dan semangat untuk bisa meningkatkan potensi ini. Kami bisa memaklumi kalau memang hal ini perlu pengkajian dan penelitian lebih lanjut, tapi besar harapan kami bisa segera ada tindakan selanjutnya dari Pemerintah," pungkasnya.(*)

Penulis: dina indriani
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help