Resmikan TK Inklusi, Wali Kota Hendi Dorong Pendidikan yang Tidak Membeda-bedakan

Konsep bergerak bersama di dalam membangun Kota Semarang terus diserukan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi

Resmikan TK Inklusi, Wali Kota Hendi Dorong Pendidikan yang Tidak Membeda-bedakan
ISTIMEWA
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, memotong tumpeng saat TK Inklusi 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Konsep bergerak bersama di dalam membangun Kota Semarang terus diserukan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dan mampu diterjemahkan dengan baik oleh warga masyarakat.

Kali ini Walikota memuji konsep tersebut dalam hal pendidikan yang diinisiasi pihak swasta, dengan terbentuknya TK Inklusi dan Klinik Tumbuh Kembang Anak “Fun and Play” yang berlokasi di Jatingaleh I Nomor 277B, Ngesrep, Banyumanik Semarang.

"Kami sangat mengapresiasi inisiasi pihak-pihak swasta yang membangun TK Inklusi. Ini merupakan salah satu konsep bergerak bersama yang saya idam-idamkan sejak lama untuk membangun kota Semarang agar menjadi lebih hebat. Semoga ide ini bisa ditiru warga saya daerah Semarang lainnya," tutur Hendi, sapaannya, Rabu (4/7/2018)

Dikatakan Hendi, bahwa memperoleh pendidikan adalah salah satu hak warga negara yang harus dipenuhi oleh pemerintah maka dari sinilah pemerintah harus bisa memberikan pendidikan terbaik bagi warganya.

Baginya, mendirikan sekolah merupakan bentuk pengabdian.

Karenanya, berdasar tenaga pengajarnya yang lulusan S1 hingga S3, siswa-siswinya setiap tahun dibatasi hanya 15 orang agar menghasilkan siswa yang bagus dan terbaik.

"Uang gedungnya dipotong 50% agar tidak memberatkan orang tua yang akan memasukkan anaknya ke TK ini serta terbuka bagi siapa saja termasuk siswa berkebutuhan khusus sehingga saya rasa ini menjadi contoh pendidikan yang tidak membeda-bedakan," urainya.

Ia menambahkan, agar tidak melupakan persoalan-persoalan mengenai tantangan yang harus dihadapi ke depan bagi putra-putri yang duduk di bangku sekolah.

Terutama persoalan mulai dari dari narkoba, tawuran, seks bebas, gangguan ideologi yang disebarkan lewat media sosial.

"Di sinilah orang tua tetap harus terlibat untuk dapat mengingatkan mengenai permasalahan tersebut kepada putra putrinya," ungkap Hendi.

Penanggung Jawab TK Fun and Play, Agung Prasetyo menceritakan alasan diberi nama Fun and Play karena konsep pendidikannya sebagian besar kegiatannya fun dan play (asik dan menyenangkan) karena lebih banyak bermainnya di luar kelas dari pada di dalam kelas.

"Kegiatannya 80% di luar 20% di dalam kelas. Kami ingin anak-anak belajar dengan dunianya sendiri. Mereka menyelesaikan masalah dengan dunianya sendiri bukan kita mendikte mereka," jelasnya.

Lebih lanjut Agung mengatakan, pengajar hanya sebagai fasilitator bukan direktur di mana harus mengobservasi sekaligus mengkonsep apa saja yang harus difasilitasi untuk anak-anak.(*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help