Nilai Tukar Rupiah

Rupiah Terpuruk Mendekati Rp 14.420, Gubernur BI: Tidak Perlu Panik

Pergerakan rupiah di kurs tengah Bank Indonesia juga terkoreksi 0,61 persen menjadi Rp 14.418 per dollar AS.

Rupiah Terpuruk Mendekati Rp 14.420, Gubernur BI: Tidak Perlu Panik
tribunjateng/dok
Pergerakan rupiah di kurs tengah Bank Indonesia juga terkoreksi 0,61 persen menjadi Rp 14.418 per dollar AS. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahannya. Selasa (3/7) kemarin, valuasi rupiah di pasar spot terdepresiasi 0,05 persen ke level Rp 14.397 per dollar Amerika Serikat (AS). Pergerakan rupiah di kurs tengah Bank Indonesia juga terkoreksi 0,61 persen menjadi Rp 14.418 per dollar AS.

Chief Market Strategist Forex Time (FXTM) Hussein Sayed mengatakan, jika nilai mata uang dollar AS terus menguat, bukan tidak mungkin rupiah akan tembus Rp 14.500 per dollar AS dalam waktu dekat. "Nilai tukar rupiah saat ini berada di kisaran Rp 14.375 per dollar AS. Penurunan dapat berlanjut mendekati 14.500 apabila dollar terus menguat," jelas Hussein, Selasa (3/7).

Dijelaskannya, melemahnya rupiah terhadap dollar AS di perdagangan awal pekan ini lantaran terjadinya peningkatan ketegangan perdagangan global. Hal itu menjadi salah satu faktor pendorong yang mengganggu ketertarikan investor terhadap rupiah. Sehingga, banyak dari mereka yang menarik dananya ke luar Indonesia.

"Kekhawatiran yang semakin besar mengenai arus keluar modal yang memengaruhi ekonomi Indonesia dapat semakin memperburuk keadaan rupiah," jelas Hussein.

Menurut Hussein, Juni lalu menjadi masa sulit bagi mata uang negara berkembang. Ditambah lagi, jika situasi pelemahan pasar negara berkembang semakin berlanjut di bulan Juli, maka nilai mata uang negara-negara berkembang pun semakin terpukul. Hal itu berlaku pula untuk rupiah.

Sementara Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, pelemahan tipis rupiah terjadi karena Bank Sentral China yang mengeluarkan pernyataan akan menjaga mata uangnya, yuan, agar tidak melemah signifikan.

"Ada komentar dari Bank Sentral China yang berniat melakukan intervensi jika yuan melemah terlalu jauh. Komentar tersebut membuat sebagian mata uang Asia termasuk Indonesia bertahan," ujarnya kemarin.

Sementara analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menambahkan, kenaikan suku bunga acuan BI belum memberikan dampak positif pada rupiah. Mengingat efek kenaikan suku bunga membutuhkan waktu.

Dibutuhkan cara lain selain kenaikan suku bunga untuk membuat rupiah menguat kembali. Namun bukan berarti tidak ada usaha, karena BI masih melakukan interfensi.
Walau sulit, Lukman menilai, rupiah masih memiliki potensi untuk menguat di kisaran Rp 14.000-Rp 14.350. Sedangkan Josua memperikakan rupiah hari ini akan berada di level Rp 14.325-Rp 14.425 per dollar AS.

Tak Perlu Panik

Menyikapi terus melemahnya mata uang Garuda di hadapan dollar AS, Bank Indonesia (BI) meminta pasar dan masyarakat tidak perlu panik. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, pihaknya akan melakukan intervensi di pasar. Sejauh ini pelemahan rupiah masih terkelola dengan baik.

"Kami akan intervensi dan melakukan stabilisasi. Kami ukur secara relatif, dan depresiasi rupiah masih manageable," ucap dia kemarin.

Untuk menjaga rupiah, BI melakukan serangkaian langkah stabilisasi. Tidak hanya melalui kebijakan suku bunga yang terukur, namun juga melalui intervensi untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valuta asing (valas) maupun Rupiah, serta melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar.

Terkait dengan pergerakan nilai tukar rupiah, Perry Warjiyo mengatakan hal tersebut harus diukur secara relatif dibandingkan dengan negara-negara lain. Saat ini pelemahan nilai tukar terhadap dollar AS juga terjadi atau dialami oleh negara-negara regional.

Sedangkan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah terjadi di hampir seluruh negara berkembang. Hal itu dikarenakan investor asing lebih memilih menempatkan dananya ke US treasury. "Saat ini ketidakpastian ekonomi global masih tinggi," terang dia. (tribunjateng/Kompas.com/Kontan)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help