Ngopi Pagi

TAJUK: Wild Boars Juaranya

Final Piala Dunia 2018 bakal istimewa. Tak hanya menghasilkan pemenang baru, setelah juara bertahan Jerman dipaksa pulang kampung oleh Korea Selatan

TAJUK: Wild Boars Juaranya
TRIBUN JATENG
Rika Irawati 

Rika Irawati
Wartawan Tribun Jateng

TRIBUNJATENG.COM - Final Piala Dunia 2018 bakal istimewa. Tak hanya menghasilkan pemenang baru, setelah juara bertahan Jerman dipaksa pulang kampung oleh Korea Selatan di babak penyisikan Grup F. Pertandingan final yang digelar 15 Juli mendatang di Luzhniki Stadium, Moskow, akan dihadiri tamu spesial. Mereka adalah tim sepak bola anak asal Thailand yang terjebak lebih dari dua pekan di Gua Tham Luang di Chiang Rai.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengundang 12 anak dan seorang pelatih tim sepak bola bernama Wild Boars itu. Undangan ini diberikan Infantino sebagai bentuk simpati dan apresiasi atas apa yang dialami anggota tim sepak bola tersebut. Infantino yakin, cerita mereka akan menginspirasi dunia.

Hingga hari ini, 12 anak dan seorang pelatih tersebut, masih berjuang bertahan hidup. Sejak dinyatakan hilang 23 Juni, Minggu (8/7) malam, baru empat orang yang berhasil dievakuasi dan dilarikan ke rumah sakit. Hujan deras yang melanda kawasan tersebut membuat proses evakuasi harus tersendat.

Hilangnya anak-anak ini membuat pemerintah Thailand mengerahkan tim penyelamat. Setidaknya, ada 1000 anggota tanggap darurat gabungan di bawah komando Angkatan Laut Thailand. Selain mereka, bergabung juga tim penyelamat dari berbagai negara. Di antaranya, 11 pakar penyelamatan China, 32 tentara Amerika Serikat, tiga penyelam profesional dan seorang pakar gua asal Inggris, Polisi Federal Australia (AFP), juga tim penyelamat dari Myanmar dan Laos.

Sejak ditemukan selamat oleh dua penyelam Inggris, Rick Stanton dan John Volanthen, pada 2 Juli, perhatian dunia tertuju pada tim sepak bola ini. Mereka bertahan dalam kondisi masih semangat. Berita tentang proses evakuasi selalu dinantikan. Doa dari berbagai belahan dunia pun dipanjatkan untuk tim kesebelasan dan seorang pelatihnya, juga bagi tim penyelamat. Termasuk, warga Indonesia yang mengikuti pemberitaan lewat lini masa media sosial.

Keseriusan pemerintah Thailand menyelamatkan warganya ini sempat dibandingkan dengan usaha pemerintah Indonesia mengevakuasi korban tenggelam KMP Sinar Bangun di Danau Toba. Meski titik karam kapal ditemukan namun evakuasi tak bisa dilakukan lantaran berada di kedalaman 450 meter.

Di kasus Gua Tham Luang, anggota tim sepak bola Wild Boars ada di kedalaman 4 kilometer dari pintu masuk. Untuk menuju tempat anak-anak tersebut, penyelamat harus berjalan dan menyelam di medan cekungan gua. Setidaknya, dibutuhkan waktu lima jam mencapai lokasi keberadaan anak-anak itu dan enam jam kembali ke darat.

Sementara, titik KMP Sinar Bangun ada di 450 meter yang memiliki bahaya derasnya arus air dalam dan tekanan. Penyelaman normal hanya bisa bertahan maksimal di kedalaman 55 meter. Karena alasan keselamatan rescuer, pemerintah memutuskan tak mengangkat bangkai kapal yang diduga masih berisikan setidaknya 186 penumpang yang mungkin tidak lagi selamat.

Meski begitu, tentu keputusan pemerintah ini tak boleh menghilangkan substansi dari empati kita. Ikut berduka lantaran keluarga kehilangan untuk selamanya orang-orang yang mereka kasihi di tragedi Danau Toba. Juga ikut simpati terkait upaya penyelamatan anak-anak di Thailand.

Keberanian serta semangat anggota Wild Boars bertahan hidup menjadikan mereka layak menyandang juara dunia. Tapi, di laga final Piala Dunia 2018 tetap Inggris pemanangnya. Eh, Inggris? (*)

Penulis: rika irawati
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help