Bupati Wihaji Rapat Bersama Ulama Membahas Regenerasi Beringin Berumur Ratusan Tahun

Bupati Wihaji Rapat Bersama Sekda dan Ulama Membahas Regenerasi Beringin Berumur Ratusan Tahun, di rumah Dinas Bupati Batang, Senin, (9/7/2018).

Bupati Wihaji Rapat Bersama Ulama Membahas Regenerasi Beringin Berumur Ratusan Tahun
tribunjateng/dina indriani
Bupati Wihaji Rapat Bersama Sekda dan Ulama Membahas Regenerasi Beringin Berumur Ratusan Tahun, di rumah Dinas Bupati Batang, Senin, (9/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Dina Indriani

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Kondisi pohon beringin di tengah alun-alun Batang menjadi ikon peradaban pemerintah Kabupaten Batang kini telah rapuh termakan usian. Pohon beringin itu sudah berusia ratusan tahun.

Memiliki history yang sangat tinggi dan makna simbolik yang luar biasa, oleh karena itu keberadaanya harus tetap eksis.

"Pohon beringin memiliki makna simbolik sebagai pengayoman, wujud perlindungan, keagungan dan kekuasaan. Maka keberadaanya harus tetap eksis," terang Sekda Batang Nashikin usai rapat regenerasi pohon beringin yang bertempat di rumah Dinas Bupati Batang, Senin, (9/7/2018).

Ia juga mengatakan, dengan kondisi yang sudah rapuh, namun untuk tidak meninggalkan nilai sejarah akan tetap dipelihara sampai kapan pun, tetapi yang sudah rapuh atau mati akan kita bersihkan dan ganti yang baru.

"Rencana dari Bupati akan ditambah lima pohon beringin, Lima yang memiliki filosofi Pancasila sebagai dasar negara," ujar Nasikhin

Dikatakannya bahwa dalam rapat revitalisasi atau reboisasi pohon beringin kita melibatkan pelaku sejarah, tokoh agama dan ulama sepuh yang ada di Batang serta keluarga keturunan Bupati Batang terdahulu.

"Teknisnya nanti selama penanaman kembali kita libatkan tokoh agama atau ulama sepuh untuk memanjatkan doa dan berbagai ritual, hal ini untuk menghormati dan membiarkan makhluk gaib yang menghuni pohon beringin sesuai alamnya masing - masing," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Batang Wihaji mengatakan, pohon beringin mempunyai nilai sejarah tinggi untuk itu rencana reboisasi ini mengundang tokoh agama, pelaku sejarah dan poro sepuh yang tahu sejarahnya, agar dalam melakukan tindakan tidak menyalahi adat maupun kearifan lokal.

"Saya dalam rapat tadi telah setujui namun yang masih tumbuh harus kita jaga supaya tetap tumbuh dan jangan sampai mati, saya mengusulkan penambahan lima pohon lagi dengan makna rukun islam ada lima sila Pancasila," terangnya.

Wihaji juga menyampaikan untuk reboisasi akan mencari bulan, tanggal, dan waktu yang tepat, pasalnya menganut sebagai orang jawa yang harus juga mempertimbangkan hitungan orang jawa. Sebagai bentuk penghormatan dan nguri - nguri kearifan lokal.

"Kita libatkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan pelaku seni, karena nanti rencanaya ada ritual khusus penanaman pohon beringin, hal ini sebagai promosi guna menarik pengunjung atau wisata untuk dukung tahun kunjungan wisata 2022," Kata Wihaji.

Rapat tersebut diikuti oleh Ketua MUI Kabupaten Batang KH. Zaenal Iroqi, Imam Masjid Agung Batang KH. Mahbub, KH. Zaenal Mutaqim, KH. Abas Tholhah, KH dan tokoh sejarah lainnya. (*)

Penulis: dina indriani
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help