FKPT Jawa Tengah Gandeng Pemkot Salatiga Bahas Terorisme

Ketua FKPT Jawa Tengah Dr Drs Budiyanto berucap, dalam berbagai upaya pencegahan maupun deteksi dini terhadap ancaman terorisme yang lebih efektif

FKPT Jawa Tengah Gandeng Pemkot Salatiga Bahas Terorisme
deni setiawan
Direktur Pencegahan BNPT Brigjend Pol Ir M Hamli memaparkan materi tentang terorisme dalam Dialog Penguatan Kapasitas Aparatur Kelurahan dan Desa dalam Pencegahan Terorisme, di Ballroom Merapi Laras Asri Resort and Spa Kota Salatiga, Rabu (11/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bersama Pemerintah Kota Salatiga, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah menggelar Dialog Penguatan Kapasitas Aparatur Kelurahan dan Desa dalam Pencegahan Terorisme, di Laras Asri Resort and Spa Kota Salatiga, Rabu (11/7/2018).

Tidak hanya aparatur kelurahan, dialog tersebut pun dihadiri perwakilan aparatur tingkat kecamatan, bintara pembina desa (babinsa), serta bintara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (bhabinkamtibmas) di Kota Salatiga.

Sementara beberapa narasumber yang dihadirkan di antaranya Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjend Pol Ir M Hamli, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dra Sri Yanuarti, Kapolres Salatiga AKBP Yimmy Kurniawan, serta Wakil Wali Kota Salatiga Muh Haris.

Ketua FKPT Jawa Tengah Dr Drs Budiyanto berucap, dalam berbagai upaya pencegahan maupun deteksi dini terhadap ancaman terorisme yang lebih efektif sebenarnya bukan dilakukan oleh pemerintah maupun aparat keamanan. Melainkan adalah masyarakat di tingkat RT maupun RW.

“Apalagi ketika ada pendatang, warga baru yang akan lebih tahu terlebih dahulu adalah tetangga. Atau jika ditarik lagi adalah ketua RT serta ketua RW. Bagaimanapun itu perlu diwaspadai. Namun jangan terlalu over acting,” ungkapnya kepada Tribunjateng.com, Rabu (11/7/2018).

Dia pun menandaskan, kunci utama dalam menjaga wilayah dari berbagai ancaman yang bisa memecah belah sikap Pancasila atau NKRI itu adalah masyarakat setempat. Hal itu pula menjadi alasan pihaknya mencoba menjembatani, mengkordinir seluruh elemen masyarat untuk bersama-sama menyatukan pemahaman serta pemikiran.

“Perlu dipahami bersama, jika dipikir secara logis. Sebenarnya yang butuh negara adalah masyarakat yang ada atau berada di negara tersebut. Karena itu sudah menjadi kewajiban bersama untuk menjaganya,” tandas Budiyanto.

Dan lanjutnya, paham yang ada pada teroris tersebut adalah paham yang diyakini mereka sebagai kebenaran sepihak. Itu mengapa pula kerapkali disebut paham radikalisme. Kini, khususnya di Indonesia setidaknya ada 2 jenis ancaman yakni bersifat global dan ideologi.

“Perlu disamakan persepsinya. Teroris adalah musuh bersama yang sewaktu-waktu tanpa diketahui bisa saja akan menyerang. Bahkan tanpa memandang tempatnya. Dimana semua itu pada intinya mereka hendak merusak di semua lini kehidupan masyarakat,” tandasnya.

Menurutnya, masyarakat jangan sampai bersantai karena Jawa Tengah, khususnya Kota Salatiga terkesan aman dari susupan paham radikalisme. Harus ditanamkan di benak semua pihak, semua wilayah adalah rawan.

“Kalau bicara soal rawan radikal atau teroris, jangan pula pemerintah hanya fokus di satu titik wilayah. Misal di Jawa Tengah, adalah di 35 kabupaten/kota. Jangan sampai kejahatan-kejahatan luar biasa tersebut masuk secara mudah apalagi memperoleh celah,” tukasnya. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help