Pasangan Prabowo-Gatot Dinilai Sebagai Lawan Berat Lawan Jokowi, Pengamat: Akan Temui Jalan Terjal

Karena itu, Emrus menandaskan, duet ini merupakan pasangan yang tak akan produktif meraih simpati rakyat dan menedulang suara di Pilpres 2019.

Pasangan Prabowo-Gatot Dinilai Sebagai Lawan Berat Lawan Jokowi, Pengamat: Akan Temui Jalan Terjal
tribunnews.com
Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, yakin bahwa dirinya bakal mendapatkan tiket calon presiden atau calon wakil presiden dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Yayan Isro' Roziki

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - ‎Hasil jajak pendapat yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, menempatkan pasangan Prabowo Subianto - Gatot Nurmantyo, sebagai lawan berat Joko Widodo (Jokowi) dalam pertarungan pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Pengamat politik Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing, turut angkat bicara mengenai hal ini.

"Ada hasil survei yang menempatkan duet ini sebagai‎ pasangan yang akan menjadi lawan berat Jokowi di 2019. Saya sendiri tak sepakat dengan hal itu. Pasangan ini akan menemui jalan terjal," kata Emrus, dalam keterangan tertulis, Rabu (11/7).

Disampaikan, melihat latar bekalangan Prabowo - Gatot, duet ini sesungguhnya merupakan ‎pasangan tak ideal. Menurut dia, kelemahan utama dari pasangan ini adalah karena keduanya sama-sama berlatarbelakang militer.

"Sehingga, pasangan ini akan mudah dilawan oleh siapa pun penantangnya. Isu-isu soal militerisasi akan berhembus kencang‎," ujarnya.

Belum lama ini LSI Denny JA membuat jajak pendapat, dengan mensimulasikan calon presiden yang dinilai sebagai penan‎tang berat Jokowi di 2019. Figur yang menjadi objek jajak pendapat dalam simulasi adalah Prabowo Subianto, Gatot Nurmatyo, dan Anies Baswedan.

Dalam simulasi diperoleh hasil‎, Prabowo akan meraup suara tinggi bila dipasangkan dengan Gatot. Jika kedua purnawirawan jenderal ini dipasangkan, mendapat elektabilitas 35,6 persen. Sementara, jika Prabowo dipasangkan dengan Anies, ‎memperoleh suara 19,6 persen.

Menurut Emrus, hasil jajak pendapat LSI tak bisa dijadikan tolak ukur akurat. Sebab, itu merupakan hasil survei sesaat. Di samping itu, elektabilitas 35,6 persen, masih merupakan angka yang rawan untuk menjadi acuan pencalonan.

"Elektabilitas di kisaran 35 persen itu belum aman. Aman itu, jika dalam survei angka elektabbilitasnya mencapai 70 persen, dibanding dengan simulasi calon lain. Kalau hasil simulasi capai 70 persen, baru kita anggap sebagai penantang serius Jokowi," urainya.

Halaman
12
Penulis: yayan isro roziki
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved