Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Bisa Picu Harga Jual Produk Otomotif

Ketua Bidang Komersial AISI Sigit Kumala mengatakan, pada semester II-2018 nanti pihaknya masih mencermati

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Bisa Picu Harga Jual Produk Otomotif
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
SPG berpose di samping kendaraan yang dipamerkan dalam ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 di JIEXpo, Kemayoran, Jakarta, Jumat 920/4/2018). Sama seperti pameran automotif internasional lainnya, dalam ajang IIMS 2018 ini sejumlah perusahaan otomotif menggunakan jasa SPG guna menarik perhatian para pengujung. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Industri otomotif mewaspadai dampak perang dagang. Selain itu, Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI) memandang dampak nilai tukar rupiah dan dollar Amerika Serikat (AS) bisa memicu kenaikan harga jual.

Ketua Bidang Komersial AISI Sigit Kumala mengatakan, pada semester II-2018 nanti pihaknya masih mencermati beberapa kondisi. Salah satu perhatiannya yakni dampak perang dagang.

Mengingat bila industri padat karya terkena dampak gagal ekspor maka akan ada pengaruh secara tidak langsung ke otomotif. "Bila industri padat karya lain ada yang berhenti produksi maka tentu akan berdampak ke sektor otomotif. Mengingat bila karyawan ada yang berhenti bekerja maka bisa berkurang daya belinya," kata Sigit.

Honda GTR 150
Honda GTR 150 (istimewa)

Selain itu, faktor melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dapat mempengaruhi harga jual dan suku cadang kendaraan. Pasalnya, bahan baku komponen otomotif masih impor dan menggunakan mata uang asing.

"Bila kondisi nilai tukar melemah maka akan menggerus marjin. Maka industri mau tidak mau akan ada meningkatkan harga jual pada kuartal III-2018 ini," kata dia.

Sayangnya, ia belum bisa menghitung detail potensi peningkatan harga jual. Meski begitu, tahun ini AISI masih yakin penjualan nasional tahun ini dapat mencapai 5,9 juta hingga 6,1 juta unit. Target itu diyakini tercapai karena membaiknya harga komoditas serta harga batubara.

"Pembangunan infrastruktur yang baik akan membawa dampak ekonomi yang baik," terangnya.
Namun tidak demikian halnya dengan pemerintah. Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Harjanto berpendapat jika perang dagang tidak akan berpengaruh besar ke industri otomotif. Kalaupun berpengaruh, menurutnya relatif kecil. Alasannya, tujuan ekspor komponen otomotif Indonesia bukan ke Amerika Serikat.

Sales Promotion Girl (SPG) Yamaha menunjukan produk sepeda motor
Sales Promotion Girl (SPG) Yamaha menunjukan produk sepeda motor (Tribun Jateng/Dwi Laylatur Rosyidah)

"Ekspor kita kan banyak ke negara Afrika, Timur Tengah untuk komponen parts dan sebagainya. Mungkin ke Amerika ada, tapi mesin-mesin listrik. Nah yang saya tahu itu otomotif ke Timur Tengah dan negara Amerika Latin," ujar Haryanto, Selasa (10/7) kemarin.

Sebelumnya, Presiden Jokowi dan jajarannya telah menggelar rapat untuk menyikapi ancaman perang dagang yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Seusai rapat terbatas di Istana Presiden Bogor, Senin (9/7), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, pemerintah akan melakukan penguatan ekonomi nasional.

Menurut Airlangga, penguatan ekonomi nasional itu dilakukan dalam beberapa bentuk. Intinya, memberikan ketenteraman kepada pelaku industri nasional agar iklim investasi bisa terjaga stabil, peningkatan ekspor, optimalisasi impor dan mengembangkan substitusi impor.

"Pemerintah akan melakukan optimalisasi di tool fiskal, baik berupa bea keluar, bea masuk maupun harmonisasi bea masuk agar industri nasional mempunyai daya saing dan tetap mampu melakukan ekspor," terang Airlangga yang menjelaskan terkait upaya peningkatan ekspor.

Selain itu, pemerintah juga akan memberikan jaminan terhadap ketersediaan bahan baku sekaligus memberi insentif kepada pelaku industri agar ekspor bisa ditingkatkan. "Pemerintah juga akan memberikan insentif untuk usaha-usaha kecil menengah, terutama di bidang furnitur dan SVLA (verifikasi legalitas produk kayu). Itu akan dibiayai atau disubsidi pemerintah," jelas dia.

SATRIA FU
SATRIA FU (TRIBUNJATENG/DOK)

Terpisah, Ketua Tim Ahli Wakil Presiden, Sofjan Wanandi mengungkapkan, pemerintah sedang berupaya meyakinkan Amerika Serikat (AS) agar tetap menjalin kerja sama perdagangan dengan Indonesia. "Ya, akan kirim tim, terutama Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri yang jadi ujung tombaknya," kata Sofjan.

Sofjan menjelaskan, tujuan tim dari Indonesia ke AS untuk diplomasi sekaligus memberi penjelasan kerja sama perdagangan antara Tanah Air dengan negeri Paman Sam selama ini saling menguntungkan. Harapannya, jika pesan itu dapat diterima, AS tidak perlu meninjau ulang kerja sama perdagangan dengan Indonesia. (tribunjateng/cetak/Kompas.com)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help