FOCUS

TAJUK: Kartu Indonesia Sadar

"Kalau anda menanggap orang yang koruptor itu korupsi. Itu salah. Tidak semua orang yang korupsi itu koruptor.

TAJUK: Kartu Indonesia Sadar
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Suharno Wartawan Tribun Jateng 

Tajuk Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Suharno

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - "Kalau anda menganggap orang yang koruptor itu korupsi. Itu salah. Tidak semua orang yang korupsi itu koruptor. Karena koruptor itu orang yang ketangkap (karena) korupsi. Selama belum tertangkap mereka masih pejabat. Bukan koruptor," ujar Cak Lontong saat mengisi acara di Mata Najwa yang diselenggarakan di Balairung Universitas Indonesia, 29 April 2015.

Melihat dan mendengar ucapan komedian asal Magetan tersebut di Youtube, tawa ini langsung lepas. Kata-kata Cak Lontong sebagai komika ini memang kritikan cerdas sekaligus mengundang tawa. Apalagi saat itu dirinya juga membahas tentang pendidikan.

"Kita (Indonesia) punya masalah berat selain penegakan hukum. Kita masih banyak kemiskinan. Sudah ada Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar. Saya bersyukur sejak ada Kartu Indonesia Pintar, anak saya paling kecil sudah pintar main kartu," celotehnya. "Tapi yang harus kita punya tanpa diberi adalah Kartu Indonesia Sadar," sambungnya.

Ngomong-ngomong soal pendidikan, kemiskinan dan kesadaran, saat ini bangsa Indonesia tengah mengalaminya. Adalah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang menjadi penyebabnya. Sistem zonasi yang diterapkan membuat orangtua atau wali calon siswa yang berupaya memasukkan buah hatinya ke sekolah negeri favorit kelimpungan.

Bahkan para orangtua yang sebenarnya hidup berkecukupan sampai membuat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) demi memasukkan anaknya ke sekolah negeri. Maklum, pemerintah provinsi memberikan kuota 30 persen untuk siswa tidak mampu.

Hal ini, yang membuat orangtua yang sebenarnya mampu rela memilih membuat SKTM supaya anaknya masuk sekolah negeri. Para orangtua tersebut sepertinya tidak yakin dengan kemampuan anaknya untuk masuk ke sekolah negeri favorit.

Hal tersebut yang terjadi di Ungaran. Si orangtua yang ternyata memiliki rumah besar dan mobil mendaftarkan anaknya memakai SKTM di SMA Negeri 1 Ungaran. Di Jepara, ada sembilan calon siswa juga terbukti mampu bahkan ada yang orangtuanya memiliki empat mobil juga mendaftar memakai SKTM. Hasilnya mereka yang pura-pura mengaku miskin, anaknya harus terdiskualifikasi dari PPDB.

Orangtua tersebut tampaknya tidak memikirkan dampak psikologi yang nantinya dialami oleh si anak. Bisa jadi, dikemudian hari, si anak juga melakukan kecurangan untuk mendapatkan sesuatu (semoga tidak terjadi).

Hal-hal kecurangan ini yang nantinya bisa memupuk benih koruptor di negeri ini. Lebih baik, jika merasa mampu, percayakan kualitas anak untuk masuk ke sekolah negeri. Jangan sampai nantinya pemerintah mengeluarkan Kartu Indonesia Sadar, dikemudian hari. (tribunjateng/cetak/har)

Penulis: suharno
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help