Berat Badan Para Remaja Terjebak di Gua Thailand Turun 2 Kilogram

Berat Badan Para Remaja Terjebak di Gua Thailand Turun 2 Kilogram. Mereka menjalani pemulihan setelah 9 hari di gua

Berat Badan Para Remaja Terjebak di Gua Thailand Turun 2 Kilogram
net
Berat Badan Para Remaja Terjebak di Gua Thailand Turun 2 Kilogram 

TRIBUNJATENG.COM - Pemerintah Thailand menyampaikan, kondisi 12 remaja dan seorang pelatih anggota tim sepak bola yang dua pekan terjebak di gua baik-baik saja. Diwartakan CNN, Rabu (11/7), saat ini ke-13 orang itu masih menjalani pemulihan di Rumah Sakit Chiang Rai Prachanukroh. Mereka harus dirawat selama sepekan di rumah sakit agar sistem kekebalan tubuhnya kembali.

Inspektur Kementerian Kesehatan Thailand, Tongchai Lertvirairatanapong, mengungkapkan, ke-13 orang itu tidak mendapat masalah serius. "Meski kebanyakan dari remaja itu mengalami penurunan berat badan hingga dua kilogram," tutur Lertvirairatanapong. Susutnya bobot anggota tim sepak bola Mu Pa atau Wild Boar itu dikarenakan selama sembilan hari pertama terjebak, mereka kekurangan makan. Untungnya, mereka masih meminum air keruh yang ada di Gua Tham Luang. "Manusia bisa bertahan berbulan-bulan tanpa makan. Namun tidak dengan air," paparnya.

Baca: Usai Sukses Selamatkan 12 Remaja di Gua Thailand, Dr Richard Harris Malah Diterpa Kabar Duka

Baca: Foto-Foto Aksi Penyelamatan Tim Sepakbola yang Terjebak 17 Hari di Gua Thailand

Ketika mereka akhirnya ditemukan dua penyelam Inggris, Richard Stanton dan John Volanthen, bantuan makanan didatangkan. Awalnya, mereka meminta roti cokelat. Namun, tim penyelamat dan medis yang mendampingi memberi makanan kaya nutrisi dan protein.

Lertvirairatanapong melanjutkan, dia memberikan kredit khusus kepada pelatih yang ikut terjebak bersama mereka, Ekapol Chanthawong. Pria 25 tahun yang akrab disapa Ake itu berhasil menjaga kesehatan mental remaja asuhannya dengan mengajari teknik meditasi.

"Emosi mereka stabil karena saling menjaga satu sama lain. Semua berkat ilmu pengendalian diri dari Pelatih Ake," pujinya dikutip Straits Times.

Salah satu dari empat remaja gelombang pertama yang diselamatkan, Minggu (8/7), dikabarkan telah bertemu keluarganya. Namun, mereka masih dipisahkan kaca karena tim medis masih harus memastikan tidak ada penyakit atau infeksi menular yang dibawa mereka.

Secepatnya, Lertvirairatanapong berujar, gelombang pertama remaja yang keluar bakal bertemu keluarga secara langsung setelah mengenakan pakaian khusus. Sementara gelombang kedua telah mendapat izin berbicara dengan keluarganya melalui kaca dan sambungan telepon, gelombang ketiga masih belum diperbolehkan. Mereka masih membutuhkan tes lanjutan karena baru dikeluarkan, Selasa (10/7) waktu setempat.

Adapun ke-13 anggota klub bola WIld Boar itu masih harus dirawat selama sepekan di rumah sakit agar sistem kekebalan tubuhnya kembali. Selama sepekan, kondisi mereka bakal dipantau. Bahkan, mereka dilarang untuk sekadar menonton televisi.

Traumatis

Psikiater dari Universitas Psikiater Kerajaan, Ananya Sinrachatanant, berujar, meski terlibat baik, masih ada kerapuhan dalam kondisi mental ke-13 orang itu. "Sebab, mereka baru saja terbebas dari pengalaman traumatis ketika terjebak di gua selama dua pekan," tuturnya.

Oleh karena itu, dia memperingatkan, agar yang boleh menjenguk tim sepak bola tersebut hanyalah keluarga dan kerabat. Keluarga pun juga dilarang untuk menanyakan seperti apa perasaan berada dalam gia, atau menyalahkan tindakan mereka.

Sebelumnya, tim sepak bola Wild Boar dilaporkan hilang, sejak 23 Juni, dan ditemukan dua orang penyelam Inggris sembilan hari kemudian, pada 2 Juli. Kisah ke-12 remaja dan seorang pelatih yang terperangkap menjadi perhatian dunia, dan mengundang para relawan dari seluruh dunia untuk membantu.

Operasi untuk menyelamatkan 13 anggota Mu Pa itu pertama dilaksanakan, Minggu (8/7), dan sukses mengeluarkan empat remaja. Kemudian dalam penyelamatan hari berikutnya, Senin (9/7), mereka berhasil mengeluarkan empat lagi. Terakhir, Rabu (10/7) lalu, lima orang tersisa berhasil dikeluarkan.

Sayangnya, dalam operasi internasional itu, seorang relawan penyelam, Saman Kunan, tewas, Jumat (6/7) lalu. Kunan yang merupakan eks-anggota Angkatan Laut Thailand tewas karena diduga kekurangan oksigen ketika membantu tim sepak bola itu. (tribunjateng/cetak/kps/cnn/straittimes/afp)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help