Grace Siswi Asal Kudus Raih Emas pada Kompetisi Matematika di Bulgaria

Anak tunggal dari pasangan Fendy Ferdianto dan Lisa Triana itu berhasil meraih medali emas kategori individu matematika

Grace Siswi Asal Kudus Raih Emas pada Kompetisi Matematika di Bulgaria
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Felicia Grace 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Sejumlah pelajar Indonesia berhasil menyabet 10 medali dalam ajang Bulgaria International Mathematis Competition (BIMC) Tahun 2018. Satu di antaranya adalah Felicia Grace Angelyn Ferdianto, asal Kudus.

Anak tunggal dari pasangan Fendy Ferdianto dan Lisa Triana itu berhasil meraih medali emas kategori individu di ajang kompetisi matematika bergengsi di dunia itu.

Untuk meraih prestasi itu, Grace telah mempersiapkan jauh-jauh hari, mulai dari belajar setiap hari sampai belajar tambahan di luar jam sekolah.

Ibunda Grace, Lisa Triana mengatakan, anak semata wayangnya itu selalu mendapat nilai matematika bagus saat duduk di bangku SD Cahaya Nur, Kudus. Ia lantas terbersit keinginan agar sang anak bisa berprestasi, sehingga mengarahkan sang anak mengikuti sebuah bimbingan belajar khusus matematika di Semarang.

“Sejak Grace duduk di bangku kelas V, dia sudah saya ikutkan kursus belajar matematika untuk keperluan kompetisi di Semarang,” katanya, ditemui di SD Cahaya Nur, Kudus, Selasa (10/7).
Menurut dia, Grace tak merasa terbebani dengan adanya jam tambahan yang dilakoninya saat akhir pekan. Dia menikmati segala proses yang dijalaninya demi mendapat predikat juara.

Alhasil, jerih payah yang dilakoni gradis berkulit bersih itu membuahkan hasil. Dia berhasil merebut emas pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Makassar pada 2017 lalu.
“Setelah mendapat emas di OSN Makassar, anak saya bisa berangkat mewakili Indonesia di Bulgaria,” tutur Lisa.

Perempuan yang kini mulai masuk kelas VII SMP Masehi Kudus itu mengaku tak menemui kendala berarti saat di Bulgaria. Sebab, berbagai kemungkinan telah dipersiapkan termasuk persiapan materi yang akan dihadapi.

“Memang ini kejuaraan tersulit di level internasional, tapi sebelumnya sudah persiapan belajar melalui soal-soal di OSN dan soal-soal IMC,” kata Grace.

Ia mengaku hanya mengalami kendala atas perbedaan kultur dan sistem transportasi di Bulgaria. Selama sepekan di sana, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk jalan kaki saat menuju tempat singgahnya.

“Ternyata di sana beda. Selama di sana saya harus jalan kaki saat turun dari transportasi umum untuk menuju tempat penginapan,” tuturnya.

Dukungan penuh

Halaman
12
Penulis: Rifqi Gozali
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help